10.25
12

KORUPSI, budaya atau sebuah keasyikan..?

by Renny Masmada ·

TUNAS BARU KORUPSI

oleh Renny Masmada

Korupsi telah menciptakan perpecahan dan ketidakmampuan memberdayakan aset bangsa. Kekayaan bangsa yang selama ini menjadi uforia, hanya untaian dongeng sebelum tidur. Korupsi telah mengikis secara cepat kepercayaan diri bangsa untuk berhadapan dengan bangsa lain. Kita tak mampu menjadi tuan rumah di negara sendiri. Korupsi telah melumpuhkan para penguasa negara ini tampil di panggung dunia, sementara rakyat tak lagi mampu menyuarakan hati nuraninya untuk memberikan kepercayaan pada para penguasa, karena kita semua adalah bagian tak terpisahkan dari kinerja korupsi dalam bentuk apapun.

Sepotong artikel di atas, kutulis dalam website-ku www.rennymasmada.com dengan judul: ‘BUDAYA KORUPSI’, yang kupublikasikan pada awal Juni 2012.

Artikel ini kemudian aku copy-paste ke web ini karena kegelisahan dan kegundahan yang terus mengganggu tidurku.

Ketidakmampuanku ikut nimbrung di gedung-gedung terhormat yang dibiayai rakyat, yang sudah menghasilkan ribuan kebijakan dan seabreg-abreg peraturan untuk memajukan negara dan bangsa tercinta ini, semakin membuatku uring-uringan ketika sadar bahwa kebijakan apapun ternyata tidak pernah berpihak pada rakyat. Kebijakan pada akhirnya hanya jadi akal-akalan untuk membuka peluang korupsi yang semakin tak terkendali.

Kebijakan, peraturan dan perundangan semakin mubazir, dan kehilangan makna. Niat ‘luhur’ para wakil rakyat yang terus menciptakan produk-produk baru perundangan untuk kemajuan negara tercinta ini hanya selesai di atas kertas. Kita tak mampu memaknai filosofi perundangan yang menghabiskan biaya sangat besar, biaya yang diperas dari keringat rakyat, rakyat yang rela lapar dan hanya mampu melihat ratusan iklan di televisi yang produknya tak mampu dibeli.

Yang pasti, para pengambil keputusan di negara ini sudah berhasil menciptakan rakyat untuk terus tersenyum dalam tidur dan menikmati mimpi-mimpi indah kemakmuran negara ini, tanpa boleh terjaga dan menjadi cerdas memahami bahwa kemerdekaan adalah juga milik rakyat.

Ada kemarahan tertahan, tapi aku tak mampu mengimplementasikannya. Kebegoan dan ketakutanku menghadapi kenyataan bahwa korupsi telah merasuki hampir seluruh lapisan masyarakat kita membuatku semakin bergidik dan tak mampu berangan-angan kapan bangsa ini  menjadi bangsa terhormat, setidaknya di mata keluarga sendiri.

Korupsi sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Bahkan kita tanpa sadar telah mulai memberikan ‘dosa waris’ kepada anak-anak kita yang sebenarnya adalah calon pewaris tahta di negara ini. Mampukah kita dengan rela mengakui bahwa racun korupsi sudah mulai mencekoki bukan saja para petinggi negara yang sangat rakus, tapi masyarakat terpencil yang seyogyanya imun terhadap kinerja korupsi.

Pemilihan lurah, kepala desa, kuwu dan seabreg-abreg pemilihan lainnya penuh muatan korupsi yang sangat transparan dan dilakukan secara terbuka tanpa rasa malu.

Sekolah dalam bentuk apapun, termasuk sekolah polisi dan tentara, institusi terhormat yang sebenarnya bersih dari praktek korupsi sangat transparan memuat kinerja dan praktek-praktek korupsi yang sangat memalukan. Sehingga dendam untuk mengembalikan biaya yang sudah dikeluarkan karena muatan korupsi tadi, menjadi tunas baru korupsi di kemudian hari dan seterusnya.

Kita tak lagi mampu membedakan korupsi dengan kewajiban.

Kita tak lagi mampu membedakan korupsi dengan peluang berbisnis.

Kita tak lagi mampu meyakinkan bahwa korupsi adalah racun yang mematikan bagi kedaulatan negara tercinta ini.

Kita tak lagi mampu menghargai diri kita dan keluarga kita berhadapan dengan bangsa lain yang mampu memberdayakan kemampuannya tanpa praktek-praktek korupsi.

Oh ya Tuhan, masih adakah kesempatan bagi kami untuk kembali sadar bahwa bangsa besar ini adalah bangsa yang sangat menghormati semangat keluhuran dan kearifan memaknai peradaban sebagai akar kebudayaan yang sudah lahir jauh sebelum korupsi begitu berkuasa di negara ini, negara yang dibangun dengan semangat holistik dan keyakinan bahwa tanah air tercinta ini adalah milik seluruh anak bangsa, tanpa terkecuali, yang bersih dari kerakusan para pelaku korupsi?

Salam Nusantara..!

Renny Masmada

Tags: , , , , , ,

One Response to “KORUPSI, budaya atau sebuah keasyikan..?”

  1. Putra Kanginan Says:

    Ketika korupsi menguasai setiap jengkal tanah air ini, perundangan dalam bentuk apapun jadi mandul dan mubazir. Mas Renny, kenapa sih masih bisa tahan cuma menulis, dan menulis? Lakukan sesuatu dong….., paling tidak.., kapan sih filmnya jadi? Siapa tau Gajah Mada jadi sebuah semangat bagi kebangkitan anak bangsa…, bravo..!

Leave a Reply