12.25
12

Air Terjun Madakaripura

by Renny Masmada ·
Renny Masmada

Renny Masmada

Air Terjun Madakaripura

Air Terjun Madakaripura

oleh Renny Masmada

Renny Masmada

Desa Negororejo menjadi begitu penting ketika kita bicara tentang air terjun yang punya nilai sejarah sejak berabad-abad lalu. Desa yang tenang itu menjadi ‘pintu gerbang’ lokasi air terjun Madakaripura yang dari zaman ke zaman menyimpan sejarah dan misteri tentang keberadaan Gajah Mada, yang konon hidup dan dibesarkan di tlatah itu sejak kecil. Bahkan pada masa tuanya dikabarkan Gajah Mada ‘menyepi’ sampai akhir hayatnya, setelah sempat kembali menduduki jabatan Mahapatih Amangkubumi pada tahun 1359-1362.

Dalam Nagarakretagama pupuh XIX/2 pada 17 diuraikan bahwa Gajah Mada mendapat hadiah tanah, sekarang terletak di Kabupaten Probolinggo, disebut Madakaripura, artinya pesanggrahan Gajah Mada, Madakari adalah nama Gajah Mada dalam bahasa Sansekerta, yaitu:

‘Ada sebuah pemukiman tempat seorang pemeluk agama Budha, yaitu Madakaripura, terpuji keindahannya, pemukiman anugerah raja kepada patih Gajah Mada, tempat peristirahatannya sangat teratur dan dihias, ingin meninjau, (mereka) pergi ke sana melewati Trasungai, mandi di Capahan dan mengadakan pemujaan.’ (Nag.19.2:17)

Air Terjun Madakaripura

Konon, di Peguron Madakaripura itulah sejak kecil Gajah Mada mendapatkan kasih sayang dari gurunya dan sekaligus bapak angkatnya, Raden Naga Baruna.

Diceritakan, ketika Naga Baruna suatu ketika berada di daerah Singasari (Malang saat itu), melihat seorang anak yang sangat cerdas dan memiliki kelebihan-kelebihan dari kawan-kawannya. Hati orang tua itu tergerak. Ada bisikan di hatinya yang mengisyaratkan anak itu akan menjadi orang besar di kemudian hari.

Ketika kemudian ditemuinya ibu angkat anak itu yang diketahui bernama Nyai Sireh,  orang tua sakti itu mengutarakan penglihatannya, dan mengungkapkan isi hatinya untuk mendidik anak kecil yang saat itu bernama Pipil. Nyai Sireh senang, bangga, namun kesedihan mulai menghantui dirinya ketika Naga Baruna memohon untuk membawa Pipil ke padepokannya di tlatah Gunung Lejar, di dekat air terjun, yang di kemudian hari dikenal dengan Air Terjun Madakaripura.

Selama bertahun-tahun, pipil yang kemudian diberi nama Gajah Mada oleh gurunya itu, bersama saudara-saudara seperguruannya mendapat bekal ilmu yang sangat berharga  seperti ilmu filsafat, politik, sosial kemasyarakatan, militer, kebudayaan dan keagamaan, ekonomi, hukum dan ketatanegaraan, selain juga ilmu kanuragan dan kajiwan.

Baru pada usia 16-17 tahun, sekitar tahun 1316/1317, Gajah Mada dibawa oleh gurunya, yang juga masih kerabat istana, ke Majapahit untuk mengabdi dan bekerja pada kerajaan yang saat itu diperintah oleh Jayanagara, raja kedua Majapahit setelah Raden Wijaya, ayahnya.

Gajah Mada ditempatkan di kesatuan Bhayangkara, kesatuan yang tercatat dalam sejarah sebagai batu tangga pertama Gajah Madameniti karir politiknya di Majapahit. Sebagai bekel di kesatuan Bhayangkara inilah Gajah Mada mulai terkenal setelah peristiwa Badander, tercatat di Serat Pararaton: 26.

Berturut-turut setelah peristiwa Badander itulah Gajah Mada menduduki jabatan yang terus mengangkat namanya ke puncak petinggi istana Majapahit, antara lain tercatat pada Nagarakretagama pupuh LXXI, Serat Pararaton:26 dan prasasti Blitar:

Bekel (membawahi 12-27 anggota Bhayangkari) pada tahun 1319, Bhaga Wirakara Bhayangkari (semacam ajudan saat ini) dari tahun 1319-1330, Patih Daha (1330-1331), Patih Majapahit (ad-interim Mahapatih Amangkubumi) pada tahun antara 1331-1334, Mahapatih Amangkubumi dari tahun 1334-1357, 1359-1364.

Sejak tahun 1357, setelah peristiwa Bubat, gairah Gajah Mada turun.

Sebagai seorang perwira yang selalu menengadahkan dada di atas kuda putihnya itu seperti sirna begitu saja. Gajah Mada menjadi lebih cepat tua. Gajah Mada mengundurkan diri dari istana dan menyepi di pesanggrahannya di Madakaripura bersama istri tercintanya, Ken Bebed.

Pada bulan Bhadrapada tahun saka 1281 (= Agustus 1359) Gajah Mada diminta kembali duduk di kursi Mahapatih Amangkubumi. Pada tahun yang sama, ketika Hayam Wuruk melakukan  perjalanan keliling ke Lumajang, Gajah Mada ikut serta dalam rombongan, tercatat dalam Nagarakretagama pupuh XVII-LX.

Walau kemudian dipanggil kembali ke istana pada tahun 1359, Gajah Mada tampak sudah sangat tua. Gairah politiknya menurun. Dia lebih banyak melakukan pendekatan kepada Sang Hyang Pencipta.

Antara tahun 1362-1364 Gajah Mada mulai sakit-sakitan. Diberitakan di dalam Nagarakretagama 70.3:54.

Air Terjun Madakaripura

Sejak itulah Gajah Mada sudah jarang berada di kotaraja. Dikabarkan Gajah Mada sering berada di Madakaripura, tanah yang dianugrahkan raja kepada Gajah Mada pada tahun 1355 sebagai rasa terimakasih, seperti tercatat dalam Nagarakretagama 19.2:17.

Di Madakaripura, tempat asri yang sangat indah, sejuk dan penuh kedamaian, di rumah masa kecilnya itulahGajah Mada menghabiskan saat-saat akhir hayatnya. Kekecewaan bathinnya mempengaruhi fisik lahiriahnya. Sebagai manusia biasa Gajah Mada tidak dapat menolak takdir.

Tahun ke tahun kesehatannya semakin menurun. Tahun 1362 diberitakan Gajah Mada sudah sulit melakukan aktifitas hariannya.

Dia banyak berada di padepokannya dekat air terjun yang sangat indah dan memberikan kekaguman setiap insani ditemani istri setianya Ken Bebed.

Dua tahun sejak diberitakan sakit yang sangat serius, Gajah Mada mangkat meninggalkan kepedihan hati setiap orang yang pernah mengenalnya, di Madakaripura.

Dan, desa Negororejo setidaknya menjadi saksi sejarah betapa air terjun Madakaripura telah memberikan banyak ilham kepada Gajah Mada untuk melahirkan gagasan-gagasan besar persatuan nusantara, yang hari ini nyaris hanya menjadi mimpi berkepanjangan. Persatuan menjadi kehilangan makna.

Apa kita harus kembali ke Madakaripura untuk menangkap kembali holy spirit Gajah Mada?

Salam Nusantara..!

Renny Masmada

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply