01.25
13

Pitutur Naga Baruna

by Renny Masmada ·

Pitutur Naga Baruna

oleh Renny Masmada

(pesan bijak Raden Naga Baruna kepada murid-muridnya, setelah Gajah Mada berhasil menumpas pemberontakan di Sadeng, 1330/1331)

Naga Baruna memandang wajah murid-muridnya dengan tatapan penuh kasih dan kesejukan bathin. Matanya yang jernih memancarkan kekuatan cinta yang luar biasa, ketulusan dan kearifan cahaya agung, katanya dengan suara lembut namun jelas terdengar, “Kalian telah melaksanakan tugas yang sangat mulia. Mudah-mudahan ananda Gajah Mada dapat menyelesaikan semua tugas-tugasnya itu dengan baik bagi kepentingan kemanusiaan.”

Kebo Narawita menunduk dalam, “Semua itu atas restu dan doa bapak guru.”

Naga Baruna tersenyum, “Restu, doa dan pitutur adalah semangat,  yang akan mewujudkan etos kerja. Semua itu atas kehendak hidup yang melekat pada diri seseorang. Kesadaran diri terhadap kewajiban menjaga kehidupan yang hakiki akan menempatkan kita pada pemenuhan atas kehendak Yang Maha Kuasa. Yang menguasai tidak saja kehidupan kalian, tetapi kehidupan jagad raya yang sangat tak terbatas ini,” Naga Baruna memandang ke kejauhan, serombongan burung camar kembali berkepak indah terbang rendah menyongsong ombak yang bergulung-gulung ke pantai meninggalkan desis panjang.

“Kita sering lupa atas kesadaran itu bapak guru,” Kebo Narameta mencoba mengingatkan kelemahannya.

Naga Baruna menghela nafas, menatap muridnya itu, “Itulah kelemahan manusia, lupa! Lalai bahwa dia tidak lebih sebagai makhluk yang sangat tergantung pada kekuatan maha dahsyat yang hanya dimiliki oleh Sang Pencipta. Sedikit saja dia menemukan kekuatan itu, dia menjadi sombong dan takabur.”

“Apa yang sebaiknya kami lakukan pada saat kesombongan itu mempengaruhi kami bapak?” tanya Lembu Abang kemudian.

“Anak-anakku, bersihkan diri kalian dari sifat-sifat yang tak terpuji itu. Itu bukan milik kalian. Kelalaian akan menjerumuskan kalian, hidupkan terus cahaya kebenaran di dalam diri kalian. Cahaya itulah yang akan selalu menerangi hati dan fikiran kalian agar selalu menyadari arti kehidupan ini.”

Ken Wirati mengangguk-angguk mencoba mengerti pitutur gurunya itu, yang sudah dianggap sebagai orang tuanya sendiri, tanyanya, “Bapak, kami masih terlalu muda, sering tidak mengerti petunjuk alam ini.”

Mendengar itu, Naga Baruna kembali tersenyum. Rambutnya yang sudah memutih bergerai dipermainkan angin pesisir. Dipandanginya Ken Wirati dengan tatapan kasih seorang ayah, yang sudah mendidik dan menjaganya sejak gadis itu belum mampu menyadari arti kehidupan.

Ken Wirati tak mampu menatap kedua bola mata orang tua yang baginya adalah manusia langka di dunia ini. Manusia yang hanya mengabdikan seluruh hidup dan penghidupannya untuk Yang Maha Agung, Sang Pencipta yang menguasai jagad raya ini, dengan kecintaan yang tak mampu dimiliki oleh manusia kebanyakan.

Bagi Ken Wirati, Raden Naga Baruna adalah cermin cinta, kasih sayang yang tak terbatas, kepada sesama dan makhluk hidup lainnya di dunia ini. Bagi Wirati, Naga Baruna adalah dewa kasih-sayang dalam raga manusia. Tanpa sadar Ken Wirati menghela nafas, bangga mempunyai orang tua tanpa cela.

“Kalian harus terus belajar. Untuk menilai, yang baik dan buruk.  Jangan rusak keseimbangan yang telah diciptakan oleh Sang Hyang Agung. Kalau kalian merusak keseimbangan alam ini, Dia Yang Maha Perkasa akan menggulung dan memusnahkan jagad raya ini akibat ulah anak manusia.”

“Terimakasih bapak guru. Dada kami menjadi sesak mendengarkan pituah bapak yang seakan cermin atas segala sikap dan tindakan kami. Kami semakin sadar akan arti sebuah kedamaian dan ketentraman. Semakin merasa bahwa dosa begitu banyak melekat pada diri kami,” Kebo Narawita menunduk semakin dalam.

Naga Baruna bangkit perlahan bertelekan tongkat kayu hitamnya, melangkah ke bibir puncak bukit karang. Kebo Narawita dan saudara-saudara seperguruannya ikut berdiri dan melangkah, berdiri bersisian di sebelah guru mereka.

Di bawah sana, buih-buih ombak berderecak menghantam dinding batu karang, meninggalkan bunyi yang berpantul ke dinding-dinding karang lainnya.

“Jadilah seperti sumur hidup. Airnya tidak pernah meluap keatas, tetapi dia tidak pernah kering. Kalian harus mempunyai ilmu dan wawasan yang sangat luas dan tak terbatas tetapi tidak pernah sombong atas anugrah itu,” perlahan suara itu  keluar dari bibir orang tua bijak itu. Namun suaranya seperti berputar-putar di kawasan itu.

“Sendika bapak,” ujar Kebo Narawita.

“Manusia yang baik ialah yang terus berusaha menjadi sempurna, tetapi manusia yang lebih baik lagi ialah, terus berusaha menjadi sempurna, namun dia sadar bahwa kesempurnaan bukan miliknya. Milik Sang Hyang Agung yang menguasai jagad raya ini. Aja Dumeh, jangan sombong dan takabur. Jaga keseimbangan alam ini dengan ilmu yang kalian miliki,” kata Naga Baruna lagi dengan suara lembut tapi jelas dan mengandung arti yang sangat dalam.

Salam Nusantara..!

Tags: , , , , ,

3 Responses to “Pitutur Naga Baruna”

  1. sangkap butar butar. Says:

    Pesan yang sangat mulia bagi murit,salam nusantara om ren.

  2. ikat pinggang kulit ikan pari Says:

    Wah gitu to gan intinya, saya baru ngerti dan paham sekarang, smoga bisa diambil manfaatnya dan bisa membantu yang lain, salam sukses.

  3. harga kulit ikan pari Says:

    Artikel yg cukup bagus bagi saya, penjelasannya sangat mudah dipahami dan dimengerti, salam sukses buat admin.

Leave a Reply