01.26
13

Kuti dan Pengungsian Jayanagara ke Badander

by Renny Masmada ·

Jayanagara dan Peristiwa Badander

oleh Renny Masmada

Setelah pemberontakan Ra Lasem dan Ra Semi dapat ditumpas pada tahun saka nora-weda-paksa-wong, 1240 (= 1318 Masehi), setahun kemudian Majapahit kembali diguncang pemberontakan yang dilakukan oleh Ra Kuti pada tahun 1319.

Ra Kuti berhasil menduduki tahta Majapahit dan mengakibatkan Sri Jayanegara mengungsi ke Badander.

Pada waktu malam Sri Jayanegara terpaksa meninggalkan istana hanya diiringkan oleh lima belas pengawal dari Bhayangkara (Kesatuan Bhayangkara sudah ada sejak zaman Singasari, Raden Wijaya tetap mendirikan kesatuan ini dengan nama sama. Tugas pokoknya adalah sebagai pengawal raja dan kerabatnya).

Kebetulan kepala pengawal pada malam itu Gajah Mada. Mereka membawa Sri Jayanegara ke Badander yang dengan sangat hormat diterima oleh kepala desa Badander yang masih sangat setia itu.

Peristiwa ini tercatat di Pararaton sebagai berikut:

“Sang Prabhu bermaksud pergi ke Badander. Perginya pada waktu malam, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Hanya diiringkan oleh pasukan Bhayangkara sebanyak 15 orang. Mereka itu kebetulan sedang mendapat giliran jaga.

Pada waktu itu Gajah Mada menjadi kepala pasukan Bhayangkara. Kebetulan sedang mendapat giliran jaga. Itulah sebabnya Gajah Mada mengiringkan Sang Prabhu ketika pergi.

Lamalah Sang Prabhu tinggal di Badander. Ada seorang pengalasan minta izin untuk pulang. Tidak diizinkan oleh Gajah Mada, karena jumlah pengiring raja hanya sedikit. Karena memaksa untuk pulang, lalu ditusuk dengan keris oleh Gajah Mada. Maksudnya jangan ada orang yang memberitahu bahwa Sang Prabhu tinggal di rumah kediaman kepala desa Badander. Gajah Mada khawatir jika hal itu diketahui oleh Ra Kuti. Lima hari kemudian Gajah Mada mohon izin untuk pergi ke Majapahit.

Setibanya di Majapahit, para amancanegara bertanya dimana tempat pengungsian Sang Prabhu. Jawabnya bahwa Sang Prabhu sudah mangkat dibunuh oleh pasukan Ra Kuti.

Yang diberitahu semuanya menangis. Berkatalah Gajah Mada: “Diamlah! Tidakkah tuan-tuansemuanya menghendaki Ra Kuti sebagai raja?” Jawab yang ditanya: “Apa katamu itu? Ia bukan raja kami!”

Akhirnya Gajah Mada memberitahu bahwa Sang Prabhu tinggal di desa Badander. Gajah Mada mohon bantuan kepada para mantri; semuanya sanggup membunuh Ra Kuti. Ra Kuti mati dibunuh. Pulanglah Sang Prabhu dari Badander. Tinggallah kepala desa Badander, nama Badander itu terkenal sampai lama.”

Setelah peristiwa Badander, nama Gajah Mada mulai dikenal di Majapahit.

Menurut Pararaton, dua bulan setelah peristiwa Badander Gajah Mada diangkat menjadi patih di Kahuripan. Tapi pernyataan ini masih diragukan, karena Nagarakretagama pupuh LXXI hanya mengatakan Gajah Mada mulai menjabat patih di Daha pada tahun saka 1253 (= 1331 Masehi) dan sebelumnya berada di Majapahit. Pernyataan ini didukung oleh prasasti Blitar yang juga menyatakan Gajah Mada menjadi patih di Daha pada tahun 1330/1.

Setelah peristiwa Badander, Sri Jayanegara mulai menaruh perhatian pada Gajah Mada.

Dia mulai sering berada di istana bersama-sama mendampingi Sang Prabhu, sekarang jabatan itu mungkin setingkat ajudan. Oleh karena itu, segala yang menyangkut kegiatan protokol raja, Gajah Madalah yang mengatur.

Salam Nusantara..!

Tags: , , , , , , , , ,

Leave a Reply