01.9
11

skenario film

by Renny Masmada ·

SKENARIO FILM

oleh Renny Masmada

Film adalah alat ekspresi yang begitu kompleks mewakili tidak saja estetika berbagai cabang seni, namun filosofi kemanusiaan.

Kemampuan menciptakan daya hidup dan kreativitas budaya manusia  telah menempatkan film sebagai satu-satunya media seni dan budaya yang begitu kuat mempengaruhi keseharian dan perilaku komunitas manusia abad ini.

Jenis-jenis film yang biasa diproduksi adalah:

  1. Film Dokumenter (Documentary films)
  2. Film Cerita Pendek (Short Films)
  3. Film Cerita Panjang (Feature-Length Films)
  4. Profil Perusahaan (Corporate Profile)
  5. Iklan Televisi (TV Commercial)
  6. Program Televisi (TV Programme)
  7. Video Klip (Music Video)

Sebagai pintu gerbang terciptanya sebuah film, skenario menjadi sedemikian penting bagi sebuah produksi film. Oleh karena itu, skenario yang baik harus mencerminkan kesederhanaan,  mudah dimengerti, tidak terlalu banyak deskripsi, sehingga terkesan menggurui, tersusun dengan standar umum yang disepakati dan terbuka untuk dikembangkan.

Skenario ditulis sebagai suatu pengarahan (a set of directions) bagi sutradara, pemain, jurukamera, penyunting, jururias, jurusuara dan segenap kelengkapan personalia dalam pembuatan sebuah film.

Banyak jurukamera demikian asyik dengan aspek-aspek teknik pembuatan film sehingga mereka lupa bahwa kegunaan utama sebuah film adalah menyajikan cerita yang menarik, dan itu sangat tergantung pada sebuah skenario.

Skenario yang baik, selain punya cerita yang menarik, harus mampu memberikan inspirasi seluruh pemain dan crew untuk mengembangkan kreativitas dan pemberdayaan potensi diri masing-masing.

Setiap film terdiri dari sekian banyak shot, skenario yang baik harus mampu memberikan ruang sangat luas bagi seorang sutradara untuk menganalisa dan mengembangkan scene-per-scene skenario sebuah film menjadi begitu apresiatif dalam membangun visualisasi dramatik cerita.

Hasil analisa estetika dan filosofi seorang Production Designer, atau paling tidak seorang sutradara, terhadap skenario merupakan shared value sebuah produksi yang pada akhirnya mampu menggerakan kemampuan intrinsik dan ekstrinsik seluruh pemain dan crew yang terlibat di dalamnya. Termasuk bagaimana memanfaatkan kemajuan teknologi  yang sangat erat hubungannya dengan efisiensi, efektifitas dan kualitas hasil produksi.

Seorang Production Designer atau seorang Sutradara dapat menyiapkan story board (rangkaian sketsa dari kejadian pokok/key insident) yang baik apabila sebuah skenario menyediakan ruang yang begitu luas untuk dikembangkan. Hal ini sangat tergantung pada skenario yang mampu menterjemahkan isi cerita secara filmis.

Basic story skenario bisa berupa cerpen, cerbung, novel, roman, sinopsis maupun naskah drama/teater, namun di tangan seorang penulis skenario yang cakap story line berhasil memuat aspek filmis yang begitu inheren mampu mengembangkan daya imajinasi crew dan artis pendukung menciptakan daya kreativitas estetika mereka.

Penuturan film adalah sebuah rangkaian dari kesinambungan cerita yang menggambarkan kejadian-kejadian dari berbagai titik pandang. Hal ini menjadi urusan seorang jurukamera atas imajinasi visual seorang sutradara. Namun skenario yang tidak filmis tak akan mampu memberikan daya estetika jurukamera memvisualisasikan kreativitasnya.

Film menjadi hambar, kering tanpa nuansa karena tak berhasil membangun imajinasi penonton terhadap isi cerita.

Untuk mulai menulis skenario, seorang penulis skenario pertama sekali harus dapat memahami basic story (baik didapat dari luar yang berupa cerpen, cerbung, novel, roman, naskah drama/teater, maupun hasil dari daya imajinasinya sendiri, atau terinspirasi dari kisah nyata sebuah peristiwa/sejarah) sebagai ide dasar.

Pemilihan basic story harus setidaknya memberikan inspirasi kuat bagi seorang penulis menuangkan imajinasi cerita yang sangat menarik sebagai sebuah tontonan. Sebaik apapun sebuah skenario akan membuat sebuah produksi film menjadi tak menarik ditonton apabila isi basic story tak mampu menyentuh akar permasalahan cerita.

Sebagai ide dasar, basic story harus mampu memberikan muatan cerita yang utuh dan mempunyai tekanan-tekanan emosi, imajinasi, filosofi, estetika yang menarik untuk dituturkan. Basic story boleh kejadian fakta, kisah nyata, realitas keseharian atau kisah fiktif, yang penting mampu membawa imajinasi penonton pada peristiwa yang dituturkan.

Setelah memahami basic story, seorang penulis mulai menetapkan story line. Yaitu garis cerita sebagai dasar acuan menetapkan bagan cerita.

Setidaknya, story line harus mencakup hal-hal sebagai berikut:

  1. Jenis (dokumenter, dokudrama, short films, sinetron, dll.). Menetapkan jenis film akan mempermudah penulis menyusun story line.
  2. Judul. Harus mewakili isi cerita, dan memberikan kontribusi terhadap penuturan dan produksi di lapangan.
  3. Bentuk/Kategori (fragmen, sketsa drama, action, dll.). Memberikan nuansa imajinasi dan visualisasi cerita.
  4. Narasumber (tinjauan empirik pelaku, buku-buku referensi). Menetapkan karakteristik tokoh, kejadian, suasana dan waktu peristiwa berlangsung.
  5. Sasaran penonton (demografi, tokoh masyarakat, masyarakat umum). Sebagai sasaran utama, penonton menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam menyusun story line, karena seluruh isi cerita memang diperuntukkan bagi penonton.
  6. Analisa kasus (kesedihan, kegembiraan, problem). Untuk membangun suasana dan nuansa emosi pemain.
  7. Solusi (pemecahan persoalan). Memberikan alternatif pemecahan permasalahan yang muncul dalam isi cerita.
  8. Durasi. Menetapkan panjang pendek film yang akan disesuaikan dengan alur cerita.
  9. Lokasi Shooting. Untuk mempermudah penyusunan story line. Karena lokasi cerita yang sulit dijangkau dapat mengganggu alur dan isi cerita.

Setelah menetapkan story line, mulai disusun bagan cerita dan penokohan yang mencakup hal-hal:

  1. Alur cerita
  2. Penokohan (karakteristik tokoh)
  3. Pola klimaks
  4. Set, lokasi

Setelah bagan cerita disusun, baru dapat menyusun treatment/scene plot sebagai skenario dasar.

Dalam menyusun scene plot sudah mulai tertata penempatan scene yang mencakup beberapa hal, seperti: Nomor scene, lokasi shooting (tempat, ext./int.), waktu (n/d) dan deskripsi.

Di film, ada dua macam skenario, yang pertama disebut skenario ‘Master Scene’ yaitu skenario dimana semua action dan dialog telah diuraikan lengkap, tapi tidak disertakan angle kamera, posisi pemain, dll., yang kedua adalah skenario ‘Shooting Script’ yaitu skenario yang lengkap dengan pengarahan gerak kamera, frame, posisi pemain, dll..

Demikianlah secara singkat beberapa hal tentang penulisan skenario. Namun yang lebih penting dari itu semua adalah memahami bahwa skenario menempati urutan sangat penting bagi sebuah produksi film. Skenario masuk pada proses Pra Produksi, yaitu sebelum produksi film berlangsung.

Dari skenario inilah kemudian mulai ditetapkan desain produksi, breakdown scene dan shooting format yang sangat menentukan jalannya produksi.

Bogor, 14 November 2006

Salam Nusantara..!

Tags: , , , ,

6 Responses to “skenario film”

  1. Barbie Doll Says:

    What a great article. Very inspiring !!!

  2. obtainsriches Says:

    Really great post, thanks for the info.

  3. essay on moral Says:

    I love this forum, My name is Ellen Kuo and I am now in New York. Maybe you have came across any site that is a resemblance of this ESL instructional site. I do not want to spend money, appreciate if you let me have more information on any such free resource. Thanks.

  4. Renny Masmada Says:

    Thank you Ellen, I hope my writings useful to you. As a writer I just hope that I also need to criticism and more accurate data source. Please give your opinion as much as possible. Once again thank you.

  5. Zainab Says:

    And? Has the film been produced?? Cannot wait to see it. Can I download it?

  6. Renny Masmada Says:

    At this time, we are preparing a production plan. Shooting location is planned in the area Cibinong, Malang, Trowulan, Madakaripura, Bromo and some other places. Construction sets, property and other artistic expected to be completed until September. Hopefully in October already started shooting. Thank you for your attention.

    Salam Nusantara..!

Leave a Reply