01.12
11

Arca Ganesha (Singasari)

by Renny Masmada ·

arca GANESHA (dari Singasari)

oleh Renny Masmada

Arca Ganesha (dari Singasari), merupakan arca pendewaan Gajah Mada.

Berupa gajah, duduk di atas timbunan tengkorak, mengenakan mahkota bersusun, yang juga dihiasi dengan tengkorak. Kedua tangan yang di muka memegang belahan tempurung, sedangkan tangan kiri yang ada di belakang berpegang pada pegangan pintu, tangan kanannya memegang kampak (beliung).

Mahkotanya terdiri dari tiga bagian. Bagian bawah bersusun, dihiasi dengan tengkorak. Bagian tengah berbentuk sebagai belahan bola, dihiasi dengan tengkorak di bagian muka. Bagian yang paling atas berbentuk stupa.

Di sisi kanan dan kiri sandaran tempat duduknya ada bulatan dengan garis-garis seperti sinar matahari. Di bagian sandaran terdapat daun-daun di sisi kanan dan kiri, tunduk kepada mahkota.

Menurut mithologi India, Dewa Ganesha berupa gajah sedang menghisap isi tempurung dengan belalainya adalah lambang keilmuan. Ganesha adalah gajah yang berilmu, gajah yang pandai atau terpelajar. Gajah Mada juga berarti gajah yang pandai. Belalainya terus-menerus menghisap ilmu, yang termuat dalam wadah tempurung.

Timbunan tengkorak yang didudukinya adalah lambang para musuh yang telah dibinasakan. Tengkorak di mahkota melambangkan musuh-musuh kerajaan, musuh-musuh sang Prabhu, yang dibinasakan oleh Gajah Mada. Tengkorak yang ada di daun telinganya melambangkan para musuh yang didengarnya dan akhirnya dibinasakan.

Mahkota bersusun melambangkan keluarga raja (pembesar) yang menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung pada tahun 1351. Demikianlah tafsir Arca Ganesha dari Singasari, berupa gajah, yang mengenakan mahkota susun tujuh. Pegangan pintu melambangkan bahwa Gajah Mada adalah penjaga pura kerajaan Majapahit. Bentuk mahkota yang setengah bulat seperti buah maja, dikelilingi daun-daun, jelas melambangkan buah maja, lambang Majapahit, tercantum pada namanya. Bulatan dengan garis-garis adalah matahari yang bersinar, sebagai lambang kegemilangan Majapahit.

Salam Nusantara..!

Tags: , , ,

6 Responses to “Arca Ganesha (Singasari)”

  1. Beanie Babies Says:

    I often wander on to your site to find inspiration and ideas. I’ve never commented before but thought I’d say thanks for the examples provided here. Spacing has always been something that has been lacking in my designs and I have found this piece to but most helpful!!!

  2. Renny Masmada Says:

    Thank you. My interest in past history that I wrote because I think that the future is a result of the past. Learn it will provide many opportunities to correct mistakes of the past to preserve the future of human culture.

  3. Zainab Says:

    Menurut salah satu versi, Majapahit hancur karena pengaruh Islam. Ingat Reog Ponorogo? Itulah simbol raja Brawijaya (si macan) yang dikangkangi burung merak (puteri CIna, istrinya, yang mengundang walisongo2 dari CIna utk memualafkan sang raja). Dan memang cara berpikir Islam yang memusuhi segala yang berbau kafir sangat berbeda dengan logika Hindu/Budha yagn sangat toleran. Dari sinilah bangsa Indonesia memulai jalan menuju keterpurukan.
    Bagaimana pendapat anda ?

  4. MULYONO Says:

    Bagi yang meyakini adanya Tuhan Yang Maha Kuasa, berserah diri dan taat kepadaNya adalah kekuatan yang dahsyat. Senantiasa berusaha menjadi lebih baik dengan penuh keyakinan dan tawakal. Apapun yang terjadi itu adalah kehendaknNya. Apabila dengan semua itu tetap tawakal, ridha dan ikhlas, yakinlah kasih sayangNya meliputi lebih dari luas jagad raya. Masalah kebangkitan, kejayaan, kemunduran bahkan kehancuran itu hanya proses atas titahnya. Di ujung sana Allah menggelar kasih sayangNya yang sangat luas. Wassalam

  5. dwi mujari Says:

    Seiring dengan perjalanan waktu detik berganti menit,menit berganti jam,jam berganti hari dan seterusnya zaman pun berubah dari zaman majapahit pun berubah menjadi islam sekarang yg mendominasi zaman, bukankah itu sudah menjadi kodrad irodat ?tapi bagaimana pun itu kita harus tetap sadar bahwa sebaiknya kita jangan lah lupa bahwa kita harus menjadi diri kita sendiri janganlah melupakan ajaran leluhur jawa kita yang nota bene sebagai bangsa yg beradab,boleh saja kita mengagumi peradaban bangsa lain (arab),bukankah ajaran kejawen kita pun bisa mengadopsi seluruh agama baik islam kristen hindu dan buda atau agama apapun tapi apapun itu kita harus ingat bahwa kita tidak akan kemana mana kita akan tetap menjadi orang jawa di sinilah kita hidup dan di sinilah kita di lahir kan dan sudah menjadi tanggung jawab kita untuk melestarikan kebudayaan warisan dari leluhur kita yang sangat kita cintai intinya kita bebas memilih agama apapun tapi mbok jangan lupa kalau masih mengaku orang jawa mbok yo,o kejawenya jangan di tinggalkan.wasalam

  6. dwi mujari Says:

    ELING LAN WASPODO BEJO-BEJANE WONG KANG LALI ISIH BEJO WONG KANG ELING LAN WASPODO

Leave a Reply