04.27
11

Gajah Mada dan Arya Tadah

by Renny Masmada ·

ARYA TADAH

oleh Renny Masmada

Selama masa pemerintahan Jayanagara dan Tribhuanatunggadewi yang duduk sebagai Mahapatih Amangkubumi, jabatan paling tinggi di bawah Ratu, adalah Arya Tadah menggantikan Dyah Halayudha. Namun pada masa pemerintahan Tribhuanatunggadewi, Arya Tadah menderita sakit berkepanjangan.

Pada prasasti Berumbung bertarikh 1329 nama Arya Tadah teridentifikasi dengan nama Mpu Krewes, rakryan mapatih namawasita.

Sejak tahun 1329 itulah Arya Tadah mulai sakit-sakitan, bahkan untuk menghadap Sri Ratu saja kesulitan. Pusat kerajaan mulai goyah. Beberapa kerajaan kecil, seperti Sadeng dan Keta, mulai berani menentang kewibawaan dan kebijakan Majapahit. Hal ini menimbulkan kekhawatiran yang mendalam.

Sebenarnya Arya Tadah orang yang sangat arif dan sangat memperhatikan bawahan lebih dari dirinya sendiri. Seluruh hidupnya diabdikan untuk negara dan rakyat banyak. Arya Tadah menjadi panutan bagi semua pejabat Majapahit.

Dengan pangkat sangat tinggi, Mahapatih Amangkubumi Majapahit,  Arya Tadah hidup sangat sederhana, dan sangat bersahaja. Beberapa bangsawan istana bahkan sering merasa malu apabila membandingkan kekayaan mereka dengan orang tua yang  tampak sangat renta itu.

Usia Arya Tadah sebenarnya tidak setua keadaan tubuhnya. Penyakit dalam telah menggerogoti wadag orang yang seluruh harinya dihabiskan bagi negara itu. Keadaan lahiriahnya dirasa sangat mengganggu kinerja kerajaan. Sebagai seorang yang sangat menjunjung tinggi martabat istana, Arya Tadah sangat mengkhawatirkan keadaan Majapahit apabila jabatan Mahapatih Amangkubumi tetap dipegangnya, sementara dia sama sekali tidak dapat melakukan kinerja apapun karena penyakit yang sangat mengganggunya itu.

Itulah sebabnya tidak ada cara lain yang dapat dilakukan oleh Arya Tadah sebagai petinggi nomor satu di pusat kerajaan, selain memohon kepada Sri Ratu agar jabatan Mahapatih Amangkubumi diserahkan kepada orang lain.

Sri Ratu menolak permintaan itu mengingat tidak ada orang yang pantas menduduki jabatan besar itu. Jabatan yang sangat mempengaruhi seluruh kebijakan kerajaan, tidak saja di pusat tapi kerajaan-kerajaan bawahan lainnya. Arya Tadah sangat masygul. Tapi kemudian Sri Ratu memberikan dawuh (perintah, petunjuk, amanat), dapat menerima permohonan itu apabila Arya Tadah dapat mengajukan orang yang tepat sebagai gantinya untuk dipromosikan.

Arya Tadah sangat senang. Dia mengusulkan Gajah Mada. Orang muda, berdedikasi tinggi, berwawasan luas, berilmu tinggi, arif dan bijaksana, sudah punya pengalaman sebagai seorang patih (di Daha), sangat setia kepada keluarga raja (pernah menyelamatkan raja ke Badander).

Usul itu diterima oleh Sri Ratu. Arya Tadah diminta memanggilnya untuk membicarakan promosi ini. Dengan perasaan bahagia Arya Tadah memanggil Gajah Mada, megutarakan hal ini. Gajah Mada sangat terkejut. Bukan kesombongan yang membuat dadanya berdebar, bahwa dia dianggap tepat menduduki jabatan sangat tinggi itu, tetapi kerendahan hatilah yang membuatnya berfikir seribu kali untuk menerima jabatan itu.

Dengan rasa hormat yang dalam, Gajah Mada minta agar promosinya sebagai Mahapatih Amangkubumi itu ditangguhkan sampai dia dapat menyelesaikan pemberontakan yang terjadi saat itu, antara lain di Sadeng. Apalagi menurutnya, kedudukan patih di Daha baru diembannya belum lagi genap setahun. Menurutnya masalah yang paling penting sekarang ini bagi Majapahit adalah bukan pentingnya dia menjadi Mahapatih Amangkubumi, tetapi bagaimana menyelesaikan semua urusan negara yang sangat mendesak itu.

Arya Tadah pada awalnya sangat masygul, tapi setelah Gajah Mada untuk sementara bersedia menjadi patih di Majapahit mendampinginya sekaligus menyelesaikan semua permasalahan di pusat kerajaan, Arya Tadah merasa lega. Tahun 1330/1 itulah babak baru bagi Majapahit mulai disentuh oleh tangan emas Gajah Mada.

Fenomena yang sangat menarik. Saat itu seorang pejabat memohon agar jabatannya dicopot karena dia tidak sanggup lagi menjalankan tugasnya karena sakit. Sementara itu, seseorang dipromosikan dengan jabatan paling tinggi, malah minta ditangguhkan karena masih belum mampu mengemban tugas itu, kecuali dia dapat membuktikan diri menyelesaikan pemberontakan di Sadeng.

Sekarang, hal ini sudah sulit ditemukan. Yang ada, setiap orang berupaya saling menjatuhkan siapa saja untuk berebut kursi kepemimpinan. Kepentingan rakyat menjadi nomor dua. Tapi untuk mengantarkan obsesinya mendapatkan tahta, rakyat dijadikan aset, dijadikan kekuatan yang siap kapan saja dijual, digadaikan dan kalau perlu dikorbankan.

Rakyat hanya simbol dari eksistensi negara.

Kesejahteraan rakyat menjadi tidak begitu penting lagi. Yang berhak menikmati semua fasilitas negara dan sandang-pangan yang memadai hanya para petinggi negara. Rakyat sisanya. Jangankan menikmati sandang-pangan yang memadai, memikirkan dan memimpikannya saja tidak boleh.

Rakyat tidak boleh punya obsesi apa-apa selain bangun pagi, berlomba dengan waktu, bekerja tak kenal lelah hanya untuk memenuhi kebutuhan perutnya dan anak-istrinya. Hari-harinya habis diarahkan hanya memikirkan bagaimana mencari makan untuk hari ini. Tidak boleh lebih. Itu saja..!

Namun, Gajah Mada dan Arya Tadah telah mengajarkan kepada kita betapa rakyat adalah kekuatan terbesar yang dimiliki  suatu negara. Rakyatlah esensi sebenarnya dari dinamika dan kekayaan peradaban suatu negara dari zaman ke zaman.

Kekayaan peradaban akan mencerdaskan rakyat untuk terus melakukan pengembangan sumber daya manusia yang hakiki untuk membangun masa depan planet bumi ini, apapun negaranya.

Dan Arya Tadah tahu itu. Kondisi lahiriahnya tak lagi mampu memberikan sumbangan apapun bagi perkembangan kerajaan. Dengan kesadaran tertingginya, dia dengan ikhlas menyerahkan kursi jabatannya kepada Gajah Mada yang dianggapnya lebih pantas menjabat sebagai Mahapatih Amangkubumi Majapahit.

Salam Nusantara..!

Tags: , , ,

Leave a Reply