07.3
10

GAJAH MADA, sebagai rakyat biasa

by Renny Masmada ·

GAJAH MADA, “…jadilah rakyat..!”

oleh Renny Masmada

Kebesaran Majapahit, berarti kebesaran Gajah Mada, patih yang  telah mengabdi  pada tiga pimpinan pemerintahan selama lebih dari tiga puluh tahun.

Pada tahun 1300/1301,  di aliran    sungai   Brantas yang mengalir dengan derasnya ke arah selatan dataran Malang dan kaki gunung Kawi-Arjuna, lahirlah Gajah Mada kecil dengan nama Pipil.

Setelah dewasa Gajah Mada memiliki beberapa nama lain seperti Empu Mada, Jaya Mada, Dwirada Mada dan Lembu Muksa (sebagai penjelmaan Dewa Wisnu).

Namun menurut kepercayaan orang Bali, seperti tertulis di kitab Usana Jawa, Gajah Mada dilahirkan di pulau Bali Agung tanpa ibu-bapak, terpancar dari dalam buah kelapa, sebagai penjelmaan Sang Hyang Narayana (Yamin G.M. Pahlawan persatuan Nusantara, h. 15)

Bahkan dalam Kakawin Gajah Mada dan Babad Gajah Mada, Gajah Mada adalah Dhatrasutra (putera Dewa Brahma) dan dengan sendirinya mempunyai sifat gaib, tubuhnya mengeluarkan cahaya seperti sinar yang memancar dari intan.

Masih dalam Kakawin Gajah Mada, salah seorang patih Majapahit saat itu sangat tertarik dengan kepribadian Gajah Mada muda yang sangat cerdas dan tekun bekerja layaknya seorang ksatria.

(Pipil) Gajah Mada akhirnya diminta tinggal bersamanya. Bukan itu saja, karena ketertarikkannya, Patih Majapahit itu bahkan kemudian mengawinkan Gajah Mada dengan puterinya yang bernama Ni Gusti Ayu Bebed, yang digambarkan sangat setia kepada suami seperti layaknya puteri Madhawi, puteri raja Yayati.

Banyak sekali dongeng atau legenda mengenai pemuda Gajah Mada. Namun tak satupun ditemukan tulisan yang sangat akurat tentang kelahiran dan masa kecilnya.

Sejarah mulai mencatat biodatanya pada tahun 1328 pada masa pemerintahan Sri Jayanagara pada saat peristiwa Badander.

Kalaupun ada tulisan mengenai kelahiran dan masa kecilnya, itu dibuat atau ditulis jauh setelah Gajah Mada tiada. Nilai sejarahnya menjadi kabur dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Gajah Mada benar seorang rakyat kebanyakan, bukan dari keluarga bangsawan, dapat dilihat dari gelar yang disandangnya: mpu, bukan dyah. Sebagai seorang biasa, Gajah Mada mempunyai kelebihan dari orang kebanyakan.

Pokok-pokok fikirannya, tindakan dan kebijakannya melebihi siapapun termasuk para bangsawan sendiri. Itulah sebabnya Gajah Mada sering dipersamakan sebagai putera dewa.

Sebagai seorang petinggi kerajaan, Gajah Mada mampu bertindak melebihi pejabat lainnya. Kebangsawanannya tumbuh dari perilaku dan kinerjanya sendiri.

Dialah bangsawan yang sebenarnya, bukan karena keturunan. Pengabdiannya yang luar biasa kepada negara membuatnya bertindak sangat tegas dan tanpa pandang bulu.

Karena terlahir sebagai rakyat biasa, membuatnya sangat perduli dengan kepentingan dan kesejahteraan rakyat banyak. Masa kecilnya di desa terpencil di kaki gunung Kawi-Arjuna telah membentuknya menjadi pemuda perkasa dan tahu melihat penderitaan rakyat banyak.

Keangkuhan para bangsawan yang selama ini telah menambah beban penderitaan rakyat kebanyakan menjadi tolok ukur baginya memerangi para bangsawan yang hanya mengandalkan darah keturunan tanpa pernah melahirkan gagasan memajukan negara untuk memakmurkan bangsa.

Itulah sebabnya, kemunculan Gajah Mada nyaris tidak disukai oleh para bangsawan istana, yang pada umumnya sudah mapan dengan kehidupannya. Yang nyaris tidak lagi kenal arti susah, hidup baginya adalah kemewahan dan pemanjaan ragawi yang sudah menyatu dengan aliran darahnya. Kebanggaan menyandang gelar dan kepangkatan, biasa dilayani bukan melayani, disembah dan selalu diangkat sampai lupa bumi tempatnya berpijak. Bergelimang harta sampai lupa penggunaannya, kalau perlu pelana kudanya  terbuat dari sutera Cina dan disalut dengan emas murni di tepinya.

Dengan ketegaran dan kepercayaan dirinya, Gajah Mada merubah semua kebiasaan dan kebijakan yang selama ini hanya mementingkan para pejabat dan bangsawan istana.

Falsafah Bhinneka Tunggal Ika, tan hana dharma mangrwa, menjadi inspirasi besar bagi Gajah Mada untuk membangun Majapahit. Dengan dasar falsafah persatuan dan kesatuan, seluruh masyarakat ‘dipaksa’ memikirkan orang lain. Tidak berlomba untuk saling menjatuhkan.

Para raja dibuatnya bukan penguasa mutlak. Di atas raja masih ada raja. Sampai Raja Majapahit di pusat kerajaan tanpa sadar dibatasi oleh kebijakan struktural dengan terbentuknya Dewan Sapta Prabhu yang terdiri dari tujuh orang keluarga raja-diraja (setelah tahun 1354 dewan ini beranggotakan sembilan orang, bukan tujuh lagi, dengan Ketua Dewan Sri Rajasanagara sendiri. Tapi dewan ini tetap dinamakan Bhatara Sapta Prabhu).

Untuk mewujudkan itu, Gajah Mada memulai dari dirinya sendiri, sesuai dengan isi sumpah agungnya itu, bahwa dia tidak akan bersenang-senang, beristirahat menikmati pensiun,  sebelum Nusantara Raya ini bersatu.

Sejarah mencatat, baru Gajah Mada, seorang patih yang bertempat tinggal di luar kompleks istana. Dia lebih memilih hidup dan tinggal bersama rakyat di luar  tembok istana. Baru Gajah Mada yang hati, jiwa dan wadagnya betul-betul cerminan rakyat jelata. Kesederhanaan dan kecintaannya kepada rakyat bukan hanya dongeng, tetapi tertulis di atas lempengan tembaga dan batu.

Para pujangga dan para seniman besar sejak zaman itu tidak henti-hentinya membuat pujian kepada orang yang tidak pernah sekalipun terlintas akan mengadakan makar, subversi dan penggulingan pemerintahan padahal dia dapat melakukan itu. Baginya raja atau ratu adalah orang yang harus dihormati dan dijunjung tinggi selama mereka duduk di atas tahta rakyat, bukan tahta kebangsawanan.

Beberapa karya sastra besar menuliskan bahwa Gajah Mada adalah keturunan dewa Brahma. Hal ini terjadi karena para pujangga tidak sanggup lagi menahan perasaan hatinya melihat betapa mulia dan agungnya perilaku dan akhlak Gajah Mada selama memimpin bangsa besar ini.

Para Pujangga itu tidak dapat menerima apabila melihat kenyataan bahwa Gajah Mada hanya seorang rakyat jelata yang lahir di tengah masyarakatnya, bahkan tak seorangpun tahu siapa orang tuanya, dimana rumah masa kecilnya, selain diketahui setelah dewasa Gajah Mada mengabdi di Majapahit sebagai seorang prajurit rendahan, yang kemudian diangkat sebagai bekel, di kesatuan Bhayangkara.

Ketika jabatan Mahapatih Amangkubumi mulai dipegangnya, Gajah Mada memilih tinggal di luar kompleks istana. Dia takut lupa pada rakyat. Dia takut lupa darimana dia berasal. Dia takut lupa bahwa dirinya adalah rakyat jelata.

Dia takut lupa bahwa rakyatlah yang membesarkannya dan memberikannya inspirasi tentang pentingnya persatuan dan kesatuan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran.

Di sebelah timur laut pasar kotaraja, Gajah Mada mendirikan rumahnya bersebelahan dan berdekatan dengan masyarakat pada umumnya. Dengan begitu, dia dapat langsung merasakan keinginan, kebahagiaan dan penderitaan rakyatnya. Dia menyatu dengan rakyat.

Segala hal yang berhubungan dengan rakyatnya, langsung dirasakan, bukan karena laporan dari bawahannya yang kadang-kadang belum tentu benar. Pada hakekatnya kita lah rakyat itu sendiri. Itu yang sering dikatakan kepada bawahannya. Untuk membahagiakan rakyat dan memajukan negara ini, jadilah rakyat.

Salam Nusantara..!

Tags: , , , ,

10 Responses to “GAJAH MADA, sebagai rakyat biasa”

  1. david.hermawan Says:

    Yth. Mas Renny

    Waktu saya bergabung dengan team gajahmada….pada tahun 2006…di C4 Bogor.saya baru..mengenal sedikit sosok Gajah Mada. Sebelumnya saya sebagai putera Sunda merupakan salah seorang yang sangat gigih membencinya. Cerita turun temurun orang tua tentang Gajah Mada yang telah memuluhlantakan peradaban Sunda pada saat Gajah Mada menjadi patih majapatih, memberikan spirit kepada saya dan motivasi untuk menjelajahi asal muasal Gajah Mada yaitu jawa Timur. Dari 9 orang bersaudara, hanya sayalah yang membulatkan tekad untuk pergi ke tanah Jawa. Tanah Jawa merupakan sebutan orang Sunda untuk wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada tahun 1983 saya menginjakan kaki pertama di Tanah Jawa di Purwokerto, memasuki studi di Universitas Jenderal Soedirman sampai tahun 1987. Selama dalam pengembaraan di Purwokerto setiap liburan saya mengyunkan kaki untuk menjelajahi pelosok Jawa Tengah untuk mempelajari kebesaran orang Jawa termasuk tokoh2 spirtualnya. Sebagai orang yang merantau tentunya sya dibekali sedikit ilmu tentang kanuragaan untuk bertahan hidup..Walaupun dengan ilmu yang pas2an dengan semangat muda yang membabi buta…..saya tetap membawa bara…bagaimana menaklukan orang jawa. Tentunya dengan kekuatan fisik sy pikir tidak mungkin…saya mengambil strategi dengan mengalahkan orang jawa dengan dua cara :1. ilmu dan budaya, 2. teknologi. Selama mengangsu kaweruh ilmu di Unsoed saya tidak boleh kalah olaeh orang jawa, Alhamdulilah preswtasi saya tidak terkalahkan oleh orang Jawa, tetapi kalah oleh mahasiswa keturunan China. Karena saya termasuk berprestasi, maka saya di beri dua beasiswa sekaligus, yang mungkinuntuk orang lain mustahil, karena tidak boleh ganda, beasiswa yang pertama adalah PPA (Peningkatan Prestasi Akademik) dan yang ke dua beasiswa TID (Tunjangan Ikatan Dinas). Pada tahun 2006, saya berkenalan dengan seorang dara yang sekarang menjadi istriku…Istriku sebut saja Wati berasal dari Banyumas, tepatnya dari Kecamatan Bukateja Purbalingga. Keputusan untuk mengambil istriku dari tanah Purbalingga, menjadikan titik balik penurunan kebencianku kepada orang Jawa. Ada dua alasan saya mengambil isytri dari tanah Purbalingga (Banyumas), 1. Ingin membuktikan bahwa pria Sunda bisa selamat apabila menikahi orang Jawa. Alasan ini kuputuskan karena dalam adat Sunda laki2 sunda titabukan untuk menikahi wanita jawa. sebaliknya demikian menurut adat Jawa. Apabila di analisis, maka tentunya ke dua adat tersebut saling bertentangan..sehingga sampai kapanpun orang Sunda tidak akan menikah dengan orang Jawa. Kondisi ini sy pikir sebagai akibat permainan strategi politik Penjajah Belanda yang kita kenal dengan istilah Devide et impera, dengan mengambil sentimen sejarah masa lalu dari Perang Bubat, yang samapai sekarang masih di yakini. 2. Pemimpin nasional khususnya TNI mayoritas berasal dari Banyumas…dan Panglima Soedirman salah satunya, sehingga berdasarkan fenomena tersebut hasil perkawinanku akan menurunkan sfiat nasionalisme dan idelisme kepemimpinan.walaupun saat perkawinanku pada mulanya dari keluarga besarku menentang dengan keras.
    Pada tahun 1988 saya lulus dari Univ, Jenderal soedirman…dengan setatus ikatan dinas jadi Dosen…pada tahun tersebut dosen bukan pekerjaan yang menarik. Berpikir tentang menjelajahi tanah Jawa belum padam dalam dadaku walaupun sy telah mempersunting wanita Jawa. Perkenalaanku ku lanjutkan pada tahun 1990 ke Jawa Timur. Untuk mencapai jawa timur maka saya minta ke pada DIKTi Dipdikbud waktu itu agar saya di tempatkan di Malang, sebagai kota dingin dan cikal bankal kerajaan Majapahit, yang berasal dari keurunan kerajaan Singosari. Sama halnya seperti di jateng, haus pengelanaanku di Jatim semakin menjadi-jadi, namun yang sangat membedakan adalah klu pengelanaan di jateng syarat bertemu dengan ahli budaya jawa (kejawen) yang lebih suka disebut dukun atau paranormal, sebaliknya di Jawa Timur saya bertemu dengan tokoh2 masyarakat yang berlatar belakang pesantren atau agama. Untuk mempermudah menjelajahi Jawa Timur, saya memasuki organisasi keagamaan yaitu Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur, dan saya termasuk salah satu pimpinnan pengurusnya. Selama pengelanaan di Jawa Timur, sya anggap ilmu penting untuk ditingkatkan. Pertama tentang ilmu pengetahuan, 2 ilmu agama dan kerohanian termasuk kanuragaan, karena tantangan semakin besar. Untuk mencapai ke dua ilmu tersebut, saya pulang ke tanah sunda dan ambil kuliah S2 di Universitas Padjadjaran pada tahun 1992. Pada tahun 1992, itulah say digempleng tentang ilmu pengetahuan dan ilmu keagamaan selain ilmu kerohanian atau tashauf lah…di sela pergumulan pendalaman ilmu pengetahuan..sy senantiasa urun rembug dalam diskusi dengan tokoh 2 besar kenegaraan Jawa Barat yang selanjutnya di jawa Barat sy diperkenalkan dengan system perpolitikan Ri mulai sejak tahun 1908 yang ditandai dengan berdirinya Budi Utomo samapai pasca kemerdekaan, diskusi politik dilanjutkan samapi tanah yogyakarta, seingkat kata pada masa s2itulah sy digembleng mengnai sytem perpolitikan di tanah Indonesia. Pada tahun 1995 sya kembali pulang ke malang…mengabdi di Universitas Muhammadiyah Malang..yang dikenal dengan kampus UMM. di UMM lah sy dimatangkan, baik secara berpolitik, agama dan sosila budaya, seringkali sy diberi kesempatan mengundang dan berdiskusi dengan tokoh2 nasional, pengusaha, birokrat, dll, bahwak dari manca negara. Penjelajahan jati diri di Jatim semikin menjadi, dengan waktu kurang lebih 5 tahun Jawa Timur secar keilmuan sudah kukuasai, terutama di bidang kelautan. Hampir tiap hari media masa mewawancariku tentang konsep pembangunan kelautan dan perikanan di Jawa Timur, malah samapai Indonesia. Jawa Timur sudah aku kuasai…secara keilmuaan dan politik…namun bara apiku semakin menyala-nyala….tentang pertarungan antara jawa denga ku….aku simpulkan ternyata orang jawa biasa2 saja itu yang pertama aku simpulkan…..Namun dalam realita kenapa orang Sunda selalu kalah alam percaturan politik Nasional…disitulah aku kembali ke titik nadir…mengenai pengembaraanku….aku yang semula membenci orang jawa….telah salah…ternyata suku sendiri yang selama ini telah salah….sikap melankolissuku, sifat cengeng, sikap tukang canda, perilaku egois, adigung adi luhung ternyata yang telah merontokan peradaban Suku Sundaku…..
    saya sangat bersyukur bisa mnimba ilmu di Unpad, karena selain bisa menuntut ilmu secara utuh saya bisa berinrelasai dan berinteraksi dengan berbagai golongan mu sipil, birokrat, militer dsb, padahal sebelumnya aku di bilang orang goblog oleh teman2ku, karena aku menanggalkan kepergiaan S2 di negeri Kanguru (AUSI).

    Sikap ku membenci orang Jawa semakin memudar setelah sy ketemu Mas Renny di C4 Bogor… oleh mas renny akudikenalkan kpd sosok.. Gajah Mada…disitulah saya berpasang badan kepada temen tokoh Sunda Jawa Barat..yang masih antipati kepada Gjah mada seperti aku dulu…ternyata perjalan hidupku yang berliku-liku yang telah menjadikan saya sebagai pembenci Gajah Mada menjadi Mencintai Gajah Mada.

    Namun sayang kecintaanku akan Gajah Mada, dinodai oleh orang-orang yang katanya orang Gajah Mada…..tau tentang Gajah Mada bahkan mengaku-ngaku sebagi pengikut dan turunan Gajah Mada…ha…ha…

    Namun apa di kata proses perjalanan hidupku sangat berliku….pada saat di Bogor terebut aku lagi melanjutkan studiku di Institut Pertanian Bogor dengan program studiku:Ilmu Pengelolaan Sumber daya Pesisir dan Lautan…. Jaringan ku sangat menguat….sehingga gagaan tentang Flm Gajhmada aku bawa kepada Kolegaku di Jakarta..beberapa Tokoh nasional terlibat, sampai semuai pimpinan stasiun TV swasta di panggilnya…. Namun sayang, kecintaanku kepada Gajah Mada ternodai…..

    Sedikit Bekal uang yang aku kumpulkan untuk mencapai S3ku kuhabiskan untuk Gajah Mada……sampai aku dan temanku dari Maksar studinya terbengkalai sampai sekarang karena uang bekalnya dihabiskan untuk sebuah idealisme gajah Mada yang ternyata….ha..ha….ha

    Semua perbuatan ada konsekuensinya, semua kegiatan ada resikonya tapi kesemuanya harus bisa dipertanggungjawabkannya…..

    Sekarang Gajah Mada mau di buat ulang dalam bentuk Flm Lebar….semoga perjalanan
    Gajah Mada Akan datang semakin mulus, dijauhkan dari orang2 ternoda…..karena sy beranggapan Film Gajah Mada…bisa menggugah anak bangsa yang lagi terpuruk.

    Setelah Membaca tulisan Mas Renny, mengenai Gajah Mada dalam web. sy salut sama anda..walaupun dalam kondisi sakit telah memaksakan untuk menulis dalm bentuk artikel, sinopsis dll. namun sebagai anak bangsa saya memberikan saran…dalam penulisan artikel di dahului dengan tulisan yang konprensif mengani sejarahnya, sistem kenegaraannya….jadi tulisan tidak ujug2…hal ini membingungkan pemirsa….kemudian tulisan harus di dukung oleh data dan pakta yang ilmiah…sebagai misal kelahiran Gajah Mada di Gunung Kawi (menurut siapa, referensinya apa)?
    Saya harap film gajah Mada tidak monoton kepada tokoh gajah Mada, tetpai akan memberikan cerita sejarah, yang monumnetal tetapi dapat menghibur seperti Troy, Archiles, Alexander Agung…….antara fakta dan cerita harap nyambung.

    Tulisan ini saya didikasikan kepada Mas Renny yang kadang kala berperan sebagai teman, sahabat, kakak, dan sekaligus musuhku……Mohon mas Renny bisa memperpanjang kecintaaku terhadap Majapahit, dimana semula hatiku membara menjalajahi Tanah Jawa… sebagai prilaku angkara Murka Ku…

    Selamat Berharya

  2. gry dla dzieci Says:

    Great post. I will be bookmarking and sharing it with my social networks.

  3. Renny Masmada Says:

    Thanks so much, glad to share and discuss with you anyway.
    Salam Nusantara..!

  4. Noella Poke Says:

    Very Nice website. I built mine and i was looking for some design ideas and you gave me a few. May i ask you whether you developed the website by youself?

    Thank you

  5. oyunoyna Says:

    hey there and thank you for your information – I’ve certainly picked up something new from right here. I did however expertise several technical issues using this web site, as I experienced to reload the website lots of times previous to I could get it to load correctly. I had been wondering if your web host is OK? Not that I am complaining, but sluggish loading instances times will sometimes affect your placement in google and could damage your high-quality score if advertising and marketing with Adwords. Well I’m adding this RSS to my email and could look out for a lot more of your respective fascinating content. Make sure you update this again very soon..

  6. Joe Marbun Says:

    Mas Renny…
    Tulisan yang sangat menarik, sebagai tambahan barangkali perlu diperkuat dengan referensi-referensi yang menyertai tulisan ini. btw, saya ijin share ke teman-teman baik di MADYA maupun jaringan pluralisme lainnya.
    terimakasih.

    Salam Budaya,

  7. Mystery Shopper Employment Agency Reviews Says:

    Nice blog here! Also your website loads up very fast! What host are you using? Can I get your affiliate link to your host? I wish my web site loaded up as fast as yours lol

  8. Annabel Keliipaakaua Says:

    I must show my appreciation to you just for rescuing me from this particular situation. Just after searching through the world-wide-web and coming across techniques which are not pleasant, I was thinking my entire life was over. Existing without the presence of solutions to the problems you have resolved as a result of your good posting is a crucial case, as well as the kind which could have in a negative way damaged my career if I had not discovered the blog. Your actual skills and kindness in touching a lot of stuff was valuable. I’m not sure what I would have done if I hadn’t come across such a solution like this. It’s possible to at this time look forward to my future. Thanks very much for your high quality and sensible help. I won’t be reluctant to propose your blog post to anybody who should get guide about this situation.

  9. Renny Masmada Says:

    Thank you. I do not know what you find in my writing, but I hope this paper can provide useful insight for everyone, especially for you. Once again thank you. Good work.

    Salam Nusantara..!

  10. 666holdem777 Says:

    Hello, I think your site might be having browser compatibility issues. When I look at your blog in Chrome, it looks fine but when opening in Internet Explorer, it has some overlapping. I just wanted to give you a quick heads up! Other then that, awesome blog!

Leave a Reply