Sang Pemersatu

tokoh

ADITYAWARMAN

Arief Hilman


Laki-laki berusia 35 tahun (pada tahun 1330/1), pemeluk agama Budha. Seorang bangsawan Majapahit. Kulit bersih, gagah, tegap berkarakter santun, lembut, tegas, keras, bijaksana, tutur bahasa baik, berwibawa, pandai (cerdas), berilmu tinggi, seorang diplomat ulung . Jabatan yang pernah dipegangnya adalah Wredda Menteri, duta Majapahit ke Tiongkok tahun 1325 dan 1332. Saudara sepupu dan sekaligus saudara seperguruan Sri Jayanagara. Ibunya Dara Jingga, bapaknya Rakryan Mahamenteri I Hino Dyah Adwayabrahma, yang memimpin pengiriman arca Amoghapasa ke Suwarnhabumi pada th. 1286. Putra angkat Sri Rajapatni.

Adityawarman terhitung masih saudara sepupu Sri Jayanagara dari garis ibu,  dan masih ada garis saudara dari ayah. Hubungan kekeluargaannya dengan Sri Rajapatni didasarkan atas garis keturunan ayahnya seperti dinyatakan pada piagam Kubur Raja.

Pararaton menulis sebagai berikut: “Kira-kira sepuluh hari (sesudah pengusiran tentara Tartar) datanglah tentara ekspedisi ke Malayu, membawa dua orang putri. Yang satu dijadikan istri/permaisuri Raden Wijaya bernama Dara Petak. Yang tua bernama Dara Jingga; ia kawin dengan (Mauliwarma) Dewa dan menurunkan raja di tanah Malayu bernama Tuan Janaka, bergelar Sri Marmadewa, mengambil nama abhiseka Aji Mantrolot.”

Pada prasati Kubur Raja di Lima Kaum, Minangkabau dinyatakan bahwa Adityawarman, penguasa Pulau Mas (Kanakamedinindra)  adalah putra Adwaya (Adwayamputra) termasuk wangsa Kulisadhara (Kulisadharawangsa).

Mahamantri I Hino Dyah Adwayabrahma (ayah Adityawarman) adalah salah seorang pengantar arca Amoghapasa dari Singasari ke Suwarnabhumi pada masa pemerintahan Sri Kertanegara.

Ibu Adityawarman, Dara Jingga, bersaudara dengan ibu Jayanagara, Dara Petak. Kedua putri itu adalah putri raja Suwarnabhumi yang bernama Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa. Jadi dari garis ibu Adityawarman juga cucu penguasa Suwarnabhumi.

Sejak kecil Adityawarman hidup di Majapahit, dan diangkat putra oleh Rajapatni. Sejak kecil hubungan Jayanagara dengan Adityawarman sangat dekat. Ini terlihat sampai mereka dewasa. Ketika Sri Jayanagara memerintah, Adityawarman mendapat kedudukan sangat tinggi yaitu Wreddha Mantri atau mantri sepuh, dan menjadi salah seorang kepercayaan raja dengan mengirimnya ke Tiongkok sebagai duta Majapahit pada tahun 1325, tercatat dalam Sejarah Dinasti Yuan, begitu juga pada tahun 1332 pada masa pemerintahan Tribhuanatunggadewi.

Pada prasasti Blitar yang dikeluarkan oleh Tribhuanatunggadewi bertarikh 1330 tercatat nama  Arya Dewaraja Pu Aditya.

Pada prasasti Manjusri yang dikeluarkannya sendiri bertarikh 1343, yang dipahat di belakang arca Manjusri yang sekarang disimpan di Berlin, menyatakan  bahwa Sang Aria Wangsadiraja membuat candi Jinalaya atas perintah Adityawarman kerabat Sri Rajapatni yang pada waktu  itu sedang memerintah negara, dengan harapan semoga keluarga rajadiraja mengenyam kebahagiaan di akhirat. Adityawarman berpangkat praudhatara.

Bersama-sama dengan Gajah Mada, Adityawarman berjuang mewujudkan program politik nusantara. Pada tahun 1332 Adityawarman melakukan diplomasi yang berhasil gemilang dengan Cina. Hasil diplomasinya memberikan peluang yang sangat besar bagi Majapahit untuk melakukan gagasan persatuan di seluruh perairan nusantara.

Hubungan Gajah Mada dengan Adityawarman sangat dekat. Beberapa ekspedisi militer seperti ke Bali dan Sumatra, mereka selalu tampak bersama. Mengenai ilmu politik, Gajah Mada banyak belajar pada Adityawarman yang memang sudah berpengalaman sejak pemerintahan Sri Jayanagara. Pada saat itu Gajah Mada masih menjadi prajurit di Bhayangkara. Sedikit banyak, Adityawarman cukup berjasa memberikan bentuk dan wawasan politik pada kinerja Gajah Mada.

Tahun 1347 Adityawarman pulang ke Sumatera dan menjadi raja di Malayapura (Dharmasraya) dengan sebutan Tuan Dewa Patih. Dari Dharmasraya Adityawarman pindah ke Pagar Ruyung dekat Batu Sangkar. Adityawarman dianggap sebagai cikal-bakal Kerajaan Pagar Ruyung dan leluhur raja-raja di Minangkabau. (Prof. Dr. Slamet Muljana, Pemugaran Persada Sejarah LELUHUR MAJAPAHIT, hal. 180)

Arca Adityawarman tersimpan di Museum Nasional, Jakarta. Mengenakan mahkota dengan Amithabha. Tangan kanannya memegang pisau, tangan kirinya memegang tengkorak, kakinya menginjak bangkai, berdiri di atas lapik yang dihias dengan tengkorak.

Pada masa pemerintahan Tribhuanatunggadewi, Adityawarman sangat disegani para pembesar istana. Kedekatannya dengan Sri Ratu memberinya peluang sangat besar untuk melakukan gagasan-gagasan politiknya yang sangat brilian, terutama diplomasi tingkat tingginya dengan Tiongkok.

Adityawarman digambarkan juga berilmu sangat tinggi. Di medan perang, Adityawarman ditakuti musuh. Konon apabila dia mengayunkan cambuknya, suaranya menggetarkan seluruh Majapahit dan terdengar sampai ke Antaraksa.

ARYA TADAH

Laki-laki  berusia 70 tahun (pada tahun 1330/1). Mahapatih Amangkubumi Majapahit pada masa pemerintahan Jayanagara dan Tribhuanatunggadewi. Kurus, renta, sakit-sakitan, berkumis tipis, sering terbatuk-batuk, berjalan agak tertatih-tatih. Berkarakter santun, lembut, tegas, keras,  bijaksana, tutur bahasa baik, berwibawa, pandai (cerdas), berilmu tinggi bersenjata Keris Kiai Surya Panuluh, yang diterima dari Raden Wijaya. Karena kesehatannya, Arya Tadah meminta Gajah Mada menggantikan kedudukannya sebagai Mahapatih Amangkubumi.

Arya Tadah mulai menjadi Mahapatih Amangkubumi pada masa pemerintahan Sri Jayanagara menggantikan  Mahapatih Amangkubumi Dyah Halayudha. Pada prasasti Berumbung bertarikh 1329 nama Arya Tadah teridentifikasi dengan nama mPu Krewes, rakryan mapatih namawasita.

Sejak tahun 1329 itulah Arya Tadah mulai sakit-sakitan, bahkan untuk menghadap Sri Ratu saja kesulitan. Pusat kerajaan mulai goyah. Beberapa kerajaan kecil di luar Majapahit, seperti Sadeng dan Keta, mulai mengambil sikap. Hal ini menimbulkan kekhawatiran yang mendalam.

Sebenarnya Arya Tadah orang yang sangat arif dan sangat memperhatikan bawahan lebih dari dirinya sendiri. Seluruh hidupnya diabdikan untuk negara dan rakyat banyak. Arya Tadah menjadi panutan bagi semua pejabat Majapahit. Dengan pangkat sangat tinggi, Mahapatih Amangkubumi Majapahit,  Arya Tadah hidup sangat sederhana, dan sangat bersahaja. Beberapa bangsawan istana bahkan sering merasa malu apabila membandingkan kekayaan mereka dengan orang tua yang sekarang tampak sangat renta itu.

Usia Arya Tadah sebenarnya tidak setua keadaan tubuhnya. Penyakit dalam telah menggerogoti wadag orang yang seluruh harinya dihabiskan bagi negara itu. Keadaan lahiriahnya dirasa sangat mengganggu kinerja kerajaan. Sebagai seorang yang sangat menjunjung tinggi martabat istana, Arya Tadah sangat mengkhawatirkan keadaan Majapahit apabila jabatan Mahapatih Amangkubumi tetap dipegangnya, sementara dia sama sekali tidak dapat melakukan kerja apapun karena penyakit yang sangat mengganggunya itu.

BAGAS TEMPATI

Laki-laki – 20 tahun

Tegap (tidak terlalu besar), gagah

KARAKTER: Santun, arif, bersahaja, lugu, bertanggungjawab, tutur bahasa baik

JABATAN/PERAN:

Anak muda desa. Putra Ki Buyut Tegal Arum, Kepala Pengawal desa. Tumbuh secara alamiah. Tidak menguasai olah kanuragan. Kemudian diterima sebagai prajurit Majapahit.

Kekasih A Kuy.

BUPATI SADENG

Topo Broto


Seorang lelaki, bangsawan sejati, berusia 45 tahun. Berbadan tambun, gemuk, berkarakter baik, tutur bahasa baik, santun, tegas, arif bijaksana. Putranya bernama Raden Nayanggaputra. Pada masa pemerintahan Tribhuanatunggadewi, di bawah kepemimpinannya, Sadeng melakukan pemberontakan. Sebagai seorang bangsawan trah Singasari, Bupati Sadeng merasa Majapahit mengalami krisis kepemimpinan, dikhawatirkan akan menenggelamkan trah Singasari sebagai cikal-bakal Majapahit. Pemberontakan dapat dipadamkan. Sri Ratu Tribhuanatunggadewi langsung memimpin penumpasan pemberontakan di alun-alun Sadeng. Bupati Sadeng tewas di tangan Gajah Mada.

BUYUT TEGAL ARUM

Laki-laki – 60 tahun

Kurus, tampak tua, rambut mulai putih

KARAKTER: Tutur bahasa baik, santun, bersahaja, arif bijaksana

JABATAN/PERAN:

Ki Buyut di Tegal Arum. Anaknya yang laki-laki bernama Bagas Tempati, yang perempuan bernama Puput Sari.

CARAN GALAR

Dimas Halim


Seorang lelaki berusia 47 tahun (th. 1330/1331). Patih di Sadeng. Tegap, gagah, keras dan tegas. Tutur bahasa baik, santun, bijaksana dan berwibawa.

GAJAH MADA SEPUH

Renny Masmada


GAJAH MADA

Rangga Djoned


Laki-laki – 30 tahun (lahir tahun 1300/1301)

Nama lain:

  • PIPIL (masa kecil)
  • MPu Mada
  • Jaya Mada
  • Dwirada Mada
  • Lembu Muksa
  • Mada Kari.
  • Gajah Mada juga berarti gajah yang pandai.

Berwajah keras, gagah, tegap, berwibawa, memakai kenitri, gelang urat kayu di kaki kanan, anting bundar di telinga kiri dan kelopak bunga di telinga kanan.

KARAKTER: Santun, lembut, tutur bahasa baik, saat berpidato sangat berapi-api,  tegas, keras, bijaksana, pandai, seorang prajurit sejati.

KARAKTER KHUSUS:

(Menurut Nagarakretagama, oleh Empu Prapanca)

  1. WIJAYA, artinya berlaku tenang dalam menghadapi persoalan yang sangat genting
  2. MANTRIWIRA,  artinya pembela negara yang berani dan gagah
  3. WICAKSANENGNAYA, artinya bijaksana dalam segala tindakan
  4. MATANGGWAN, menghormati dan memegang kepercayaan (rakyat dan negara) mempertanggungjawabkan kepercayaan itu
  5. SATYABHAKTY APRABHU, artinya setia dengan hati yang ikhlas kepada negara dan Sri Mahkota
  6. WAGMI WAK, pandai berbicara (pidato) dan meyakinkan buah pikirannya kepada orang lain
  7. SARJJAWOPASAMA, artinya rendah hati, tidak sombong, bermuka manis, tulus, ikhlas, lurus dan sabar
  8. DHIROTSAHA, artinya rajin bekerja dan sungguh-sungguh, tak mengenal lelah, teguh hati
  9. TAN LALANA, artinya bersifat gembira, kalau sedih tidak membutuhkan hiburan dari luar
  10. DIWYACITRA, demokratis, mau mendengarkan pendapat orang lain
  11. TAN SATRISNA, artinya tidak ingin dikultuskan, bekerja tanpa pamrih, dan yang terpenting, sangat menjaga hawa nafsu berahi
  12. SIH-SAMASTABHUWANA, menyayangi dan menyatu dengan alam jagad raya ini, menyayangi seluruh isinya. Memelihara dan bersahabat dengan makhluk hidup dan alam fauna di Jagad Raya ini
  13. GINONG PRATIDINA, artinya selalu mengerjakan yang baik dan meninggalkan perbuatan buruk
  14. SUMANTRI, artinya menjadi pegawai negeri yang senonoh, setia kepada hukum, tidak korupsi dan menyalahgunakan jabatan
  15. ANAYAKEN MUSUH, artinya memusnahkan musuh dengan gagah berani demi cita-cita luhur, untuk negara dan bangsa. Tindakan ini diambil apabila pendekatan persuasive dan perdamaian tidak dapat ditempuh.

JABATAN:

  • Bekel Pasukan Bhayangkara
  • Kepala Pengawal Raja
  • Bhagawirakara
  • Patih Daha
  • Angabehi
  • Mahapatih Amangkubumi
  • Jaladri Mantri
  • Mantri Wira.

CATATAN KHUSUS:

  • Terkenal dengan Sumpah Amukti Palapa yang diucapkan di hadapan Sri Ratu dan para pembesar istana di Paseban Agung Majapahit pada tahun 1334
  • Gajah Mada dilahirkan di Kaki Gunung Kawi-Arjuna, selatan Malang dekat aliran Sungai Brantas
  • Menurut kepercayaan orang Bali, seperti yang tertulis di Kitab Usana Jawa: Gajah Mada dilahirkan di Pulau Bali Agung tanpa Ibu-Bapak, terpancar dari dalam buah kelapa, sebagai penjelmaan Sang Hyang Narayana
  • Dalam Kakawin Gajah Mada dan Babad Gajah Mada: Gajah Mada adalah Dhatrasutra, putera Dewa Brahma, dan dengan sendirinya mempunyai sifat ghaib, tubuhnya mengeluarkan cahaya seperti sinar yang memancar  dari intan
  • Hidup sejak kecil bersama orang tua angkatnya, gurunya sendiri, yaitu Raden Naga Baruna, seorang mantan Senapati kepercayaan Sri Kertanegara di Singasari, yang juga salah seorang perwira yang ikut mengantar patung Amoghapasa ke Suwarnhabumi-Jambi bersama Adwayabrahma, orang tua Adityawarman
  • Gajah Mada mempunyai empat orang saudara seperguruan, yang sudah dianggap saudaranya sendiri yaitu: Kebo Narawita (Raden Mahesa Tenggara), Kebo Narameta (Raden Kuda Rambiyat), Lembu Abang dan Ken Wirati
  • Menjelang Gajah Mada remaja, Raden Naga Baruna membawa Gajah Mada ke Majapahit untuk menjadi seorang prajurit, yang kemudian ditempatkan di Kesatuan Bhayangkara.
  • Masih dalam Kakawin Gajah Mada, Patih Majapahit saat itu (Mahapatih Amangkubumi/Patih Jabung?) sangat tertarik dengan kepribadian Gajah Mada muda yang sangat cerdas dan tekun bekerja layaknya seorang ksatria. (Pipil) Gajah Mada akhirnya diminta tinggal bersamanya. Bukan itu saja, karena ketertarikkannya, Patih Majapahit bahkan kemudian mengawinkan Gajah Mada dengan puterinya yang bernama Ni Gusti Ayu Bebed, yang digambarkan sangat setia kepada suami seperti layaknya puteri Madhawi, puteri raja Yayati.
  • Sejarah mulai mencatat biodatanya pada tahun 1328 pada masa pemerintahan Sri Jayanagara pada saat peristiwa Badander.
  • Gajah Mada benar seorang rakyat kebanyakan, bukan dari keluarga bangsawan, dapat dilihat dari gelar yang disandangnya: mPu, bukan dyah. Sebagai seorang biasa, Gajah Mada mempunyai kelebihan dari orang kebanyakan.
  • Karena terlahir sebagai rakyat biasa, membuatnya sangat perduli dengan kepentingan dan kesejahteraan rakyat banyak. Masa kecilnya di desa terpencil di kakii gunung Kawi-Arjuna telah membentuknya menjadi pemuda perkasa dan tahu melihat penderitaan rakyat banyak.
  • Dua tahun setelah menjadi Ratu di Majapahit, tepatnya tahun 1330, Tribhuanatunggadewi mengangkat Gajah Mada menjadi Patih di Daha, negara bawahan Majapahit, menggantikan Arya Tilam. Pernyataan ini tertulis di Nagarakretagama pupuh LXXI  yang mengatakan Gajah Mada menjabat patih di Daha pada tahun saka 1253 (= 1330/1 Masehi), didukung oleh prasasti Blitar yang juga menyatakan Gajah Mada menjadi patih di Daha pada tahun 1330
  • Sepulang dari penumpasan Sadeng, Gajah Mada mendapat hadiah gelar angabehi..

SENJATA: Keris Kiai Surya Panuluh. Dibuat oleh Empu Ramadi (yang juga membuat Keris Pasopati jauh sebelum Wangsa Syailendra menguasai tanah Jawa ini), yang kemudian dimiliki oleh Raden Wijaya (Prabu Sri Kertarajasa), yang kemudian diberikan kepada Arya Tadah. Dipenghujung masa pensiunnya, menjelang diucapkannya Sumpah Amukti Palapa pada tahun 1334, Arya Tadah menyerahkan keris pusaka besar itu kepada Gajah Mada. Keris inilah yang kemudian digenggam Gajah Mada ketika mengucapkan Sumpah Suci itu di Paseban Agung Majapahit pada tahun 1334.

Kiai Surya Panuluh: Luk 13 (tiga belas), agak berlubang di tengahnya dengan pamor yang sangat indah, memancarkan cahaya hijau-kebiruan.

  • Menurut Nagarakretagama pupuh 71/1, Gajah Mada mulai menjadi patih pada tahun saka Tryanginina (1253) atau tahun 1331 M.
  • Selama hampir dua tahun setelah Gajah Mada mengundurkan diri, dan kursi Mahapatih Amangkubumi kosong, Hayam Wuruk merasa kewalahan memimpin Majapahit. Itulah sebabnya pada bulan Bhadrapada tahun saka 1281 (= Agustus 1359) Gajah Mada diminta kembali duduk di kursi Mahapatih Amangkubumi. Pada tahun yang sama, ketika Hayam Wuruk melakukan  perjalanan keliling ke Lumajang, Gajah Mada ikut serta dalam rombongan, tercatat dalam Nagarakretagama pupuh XVII-LX.
  • Setelah Sri Rajasanegara pulang dari Simping pada tahun 1362, tercatat dalam Nagarakretagama: ‘Ketika raja pulang dari Simping, segera datang di istana, prihatin kerena sakitnya menteriadimantra Gajah Mada, ia telah berusaha untuk meluaskan pulau Jawa pada  waktu lampau, yaitu dengan Bali, Sadeng, bukti keberhasilannya memusnahkan musuh. (Nag.70.3: 54)’ Sejak itulah Gajah Mada sudah jarang berada di kotaraja. Dikabarkan Gajah Mada sering berada di Madakaripura, tanah yang dianugrahkan raja kepada Gajah Mada pada tahun 1355 sebagai rasa terimakasih, seperti tercatat dalam Nagarakretagama, yaitu: ‘Ada sebuah pemukiman tempat seorang pemeluk agama Budha, yaitu Madakaripura, terpuji keindahannya, pemukiman anugerah raja kepada patih Gajah Mada, tempat peristirahatannya sangat teratur dan dihias, ingin meninjau, (mereka) pergi kesana melewati Trasungai, mandi di Capahan dan mengadakan pemujaan. (Nag.19.2:17)’
  • Di tempat yang sangat sejuk dan penuh kedamaian itulah Gajah Mada menghabiskan saat-saat akhir hayatnya. Kekecewaannya kepada Hayam Wuruk atas tahap akhir program politik nusantara Majapahit terhadap kerajaan Sunda, dikubur dalam-dalam di jantung jiwanya. Sikapnya terhadap kerajaan Sunda diartikan salah. Ini berlangsung berabad-abad sampai hari ini. Sebagian mesyarakat menilai langkah yang diambil oleh Gajah Mada keliru. Padahal menurut Gajah Mada sendiri sikapnya kepada kerajaan Sunda justru sikap yang sangat arif dan bijaksana. Apabila pada saat itu Sunda mau mengikuti tata-cara yang diatur oleh Gajah Mada, disamping tetap mengangkat wibawa Majapahit juga tidak merendahkan wibawa Sunda. Bahkan pada akhirnya wibawa Sunda akan terangkat, sebagai besan kerajaan besar Majapahit. Sebagian masyarakat hanya menilai Gajah Mada telah menumpahkan darah orang-orang Sunda demi suksesnya program politik nusantara. Padahal orang lupa, kalau saja Gajah Mada ingin menundukkan Sunda dengan kekuatan mliter, bukan persoalan besar. Kerajaan Majapahit, dengan didukung oleh kerajaan-kerajaan lain yang berada di bawah Majapahit akan dengan mudah menggilas Sunda yang saat itu jauh berada di bawah kekuatan Majapahit. Dan itu tidak dilakukan. Gajah Mada malah menyetujui perkawinan kedua belah pihak, dengan harapan perkawinan itu sebagai langkah jenius menghindari pertumpahan darah percuma. Melalui perkawinan itu dengan tidak langsung sudah menempatkan Sunda berada di kesatuan perairan nusantara yang menjadi master programnya. Kesalahfahaman dan ketidak mengertian gagasan Gajah Mada (ditambah konspirasi politik yang dilakukan sebagian bangsawan istana yang tidak rela Dyah Pitaloka menjadi paramesywari Hayam Wuruk) yang mengakibatkan perang yang sangat kotor itu. Perang yang akhirnya menimbulkan dendam berkepanjangan. Perang yang akhirnya menyingkirkan Gajah Mada dari percaturan politik Majapahit selanjutnya. Kekecewaan Gajah Mada ini, akibat pertempuran di Bubat dengan kerajaan Sunda (yang sebenarnya hanya rombongan kecil pengantar pengantin), telah membuat luka yang panjang dan dalam di hati Gajah Mada, seorang pemimpin yang mengabdikan seluruh hidupnya demi kesejahteraan rakyat nusantara raya. Cita-cita Gajah Mada menyatukan Majapahit dan Sunda melalui perkawinan agung yang akan memimpin perjalanan politik bangsa ke depan kandas. Bahkan Gajah Mada malah dituduh dan difitnah sebagai orang yang memprakarsai tragedi berdarah itu. Gajah Mada masygul, kecewa tanpa dapat berbuat apapun.
  • Sejak tahun 1357, gairah Gajah Mada turun. Sebagai seorang perwira yang selalu menengadahkan dada di atas kuda putihnya itu seperti sirna begitu saja. Gajah Mada menjadi lebih cepat tua. Walau kemudian dipanggil kembali ke istana pada tahun 1359, Gajah Mada tampak sudah sangat tua. Gairah politiknya menurun. Dia lebih banyak melakukan pendekatan kepada Sang Hyang Pencipta. Di Madakaripura, tempat asri yang sangat indah dan sejuk, Gajah Mada menghabiskan akhir-akhir hidupnya. Kekecewaan bathinnya mempengaruhi fisik lahiriahnya. Sebagai manusia biasa Gajah Mada tidak dapat menolak takdir. Tahun ke tahun kesehatannya semakin menurun. Tahun 1362 diberitakan Gajah Mada sudah sulit melakukan aktifitas hariannya. Dia banyak berada di padepokannya dekat air terjun yang sangat indah dan memberikan kekaguman setiap insani ditemani istri setianya Ken Bebed.
  • Dua tahun sejak diberitakan sakit yang sangat serius, Gajah Mada mangkat meninggalkan kepedihan hati setiap orang yang pernah mengenalnya. Menurut Nagarakretagama pupuh LXXI/1 dengan candrasangkala rasa-tunu-ina, Mahapatih Gajah Mada mangkat tahun saka 1286 (=1364 Masehi), sebagai berikut: ‘Tiga, angin dan matahari tahun saka (1253) ia memangku tanggungjawab kesejahteraan dunia, ia wafat pada tahun saka rasa badan matahari (1286), raja sedih dan berduka, hanya karena keagungan citanya, ia tidak memegang teguh cinta keduniawian, ingat akan hakekat makhluk, kebaikan saja yang setiap hari difikirkan. Adapun pada pertemuan itu, raja dengan ayahanda berkumpul, beserta ibu serta dua suadara raja tercinta ikut, mereka berkumpul/bermusyawarah tentang dia, yang tahu segala kebajikan dan dosa, abdi raja, untuk mengganti sang patih, diperbincangkan (namun) tak ada berkenan di hati, menjadikan kesedihan yang menusuk. Raja mengambil kebijakan dari sang Patih yang tak dapat diganti, karena tak ada yang dapat mengganti, apabila ada kesulitan, urusan negara (sementara) didiamkan, sebaiknya dipilih oleh raja menurut pandangan beliau dari para pangeran yang bijak, yang dapat dipercaya kata-katanya dan tahu apabila yang lain tak setuju, tanpa salah. (Nag. 17.1,2,3 55)’ Setelah Gajah Mada tiada, jabatan Mahapatih Amangkubumi kosong. Rapat Sapta Prabhu memutuskan tidak ada orang yang tepat menggantikan Gajah Mada. Sehingga untuk jabatan Mahapatih Amangkubumi dipegang langsung oleh Sri Rajasanegara Hayam Wuruk. Baru pada tahun saka 1293 (=1371 M) dengan candrasangkala guna-sanga-paksaning-wong, Gajah Enggon diangkat sebagai Mahapatih Amangkubumi sampai tahun saka 1320 (=1398 M) dengan candrasangkala sunya-paksa-kaya-janma. Susunan kabinet setelah Gajah Mada mangkat, tidak diketahui kecuali dalam prasasti Sekar, yaitu: Rakryan Rangga: mPu Dami; Rakryan Tumenggung: mPu Nala dan Rakryan Wredhamenteri: mPu Sridhara. Lainnya tidak disebut. Namun Nagarakretagama menulis, sejak kematian Gajah Mada, Hayam Wuruk melakukan perubahan susunan kabinet, yaitu: Sri Kertawardhana diberi tugas untuk mengatur keamanan negara dan Sri Wijayarajasa diberi tugas untuk mengatur urusan dalam negeri. MPu Tandi diangkat sebagai wredhamenteri, mPu Nala tetap sebagai tumenggung, mPu Dami sebagai menteri muda dan mPu Singa sebagai pembantu utama Sri Baginda dalam melakukan pekerjaan sehari-hari di kraton.

Banyak sekali cerita, dongeng, legenda dan versi yang berkembang seputar kehidupan orang besar ini. Antara lain:

  • Gajah Mada seorang besar, bahkan sebagian besar versi menyebutkan bahwa Gajah Mada keturunan dewa Brahma.
  • Gajah Mada berhasil mempersatukan nusantara.
  • Gajah Mada telah mengucapkan sumpah Amukti Palapa.
  • Gajah Mada sebagai seorang Patih yang mengabdikan hidupnya untuk negara dan bangsa.
  • Gajah Mada mempunyai istri bernama Ken Bebed (sebagian versi menyatakan mempunyai anak, sebagian lainnya tidak).
  • Gajah Mada lahir di daerah Malang, sebagian versi menyatakan di Bali, Mojokerto, daerah dekat gunung Bromo dan bahkan di Purworejo, Batak, Flores, dll.
  • Gajah Mada mepunyai keturunan di Bali dan di daerah Jawa Timur lainnya (beberapa versi mengatakan tidak).

Terlalu sedikit tempat dan waktu untuk menuliskan kegagahan dan kebijaksanaan Gajah Mada dalam memimpin negara selama tiga puluh tahun itu.

Kalau kita mau jujur, kita seharusnya bangga dan berbesar hati memiliki kakek moyang seperti Gajah Mada. Waktu dan tempat kelahiran dan kematiannya tidak pernah diketahui.

Gajah Mada, manusia yang seluruh hidupnya diserahkan mutlak bagi negara dan kebesaran bangsa yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat luas.

Kita lihat pada saat dia menghukum mati Ra Kembar dan Ra Warak, setingkat Dharmaputera, karena jelas-jelas Ra Kembar menentang konsep persatuan bangsa yang diucapkannya di paseban agung tahun 1334 yang terkenal dengan Sumpah Amukti Palapa. Ra Kembar telah melakukan dua kesalahan sangat besar. Pertama, mendahului penyerbuan ke Sadeng pada tahun 1330/1331 yang mengakibatkan pertumpahan darah sia-sia. Kedua,  menentang konsep persatuan bangsa.

Fenomena ini sangat menarik untuk dikaji. Ra Kembar seorang tokoh yang mempunyai kedudukan tinggi saat itu, setingkat Dharmaputera. Tapi bagi Gajah Mada supremasi hukum harus ditegakkan. Baginya, negara akan kokoh berdiri di atas kepentingan kesejahteraan rakyat apabila sendi hukum menjadi landasan berpijak seluruh kebijakan dan kinerja pemerintahan, tanpa kecuali.

Mengenai hal ini, Gajah Mada sangat tegas.

Ini juga terlihat jelas pada saat Gajah Mada tanpa kompromi membunuh anak buahnya sendiri dari kesatuan Bhayangkara karena khawatir anak buahnya itu akan membocorkan rahasia persembunyian Prabu Sri Jayanagara di Badander, yang akan mengancam keselamatan Raja yang menjadi junjungannya itu.

Tetapi ternyata seorang Gajah Mada yang berdarah ksatria dan militer sejati itu mempunyai kelembutan melebihi para pendeta sendiri ketika dia secara tekun dan telaten membangun prasasti candi Singasari di Malang sebagai penghormatan kepada Prabhu Sri Kertanegara sebagai pencetus pertama program kesatuan dan persatuan bangsa.

Bukan itu saja, yang sangat menarik untuk dijadikan suri tauladan adalah sikapnya yang tetap bersahaja sebagai seorang patih yang menghamba kepada tiga raja tanpa sedikitpun ada keinginan dari dalam dirinya untuk menggulingkan pemerintahan.

Padahal kekuasaan pemerintahan dan militer pada saat itu mutlak berada di bawah kendalinya.

Sejarah mencatat, kejatuhan Majapahit dimulai sejak kematian Gajah Mada pada tahun 1364.

Setelah kematiannya, jabatan Gajah Mada dipegang tidak kurang oleh lima menteri. Ini suatu indikasi yang menarik untuk menilai sejauh mana kemampuan Gajah Mada memimpin negara tanpa pamrih.

Kini Gajah Mada telah tiada.

Dia pergi tidak pernah meninggalkan warisan harta sedikitpun, bahkan keturunanpun tak punya.

Tetapi dia pergi meninggalkan pesan dan falsafah yang tidak akan pernah pudar bagi anak cucunya di Nusantara ini yaitu persatuan dan kesatuan bangsa.

Terlalu naïf menilai Gajah Mada sebagai bagian yang terpisah dari perjuangan bangsa kalau kita merasa sebagai bangsa yang mau menghargai jasa pahlawan, terlebih pahlawan yang sepanjang hidupnya diabdikan hanya untuk bangsa dan negaranya.

Pahlawan yang tidak punya pamrih apapun kecuali mempersatukan nusantara dari Sabang sampai Merauke, mungkin lebih luas lagi.

Tidak ada gading yang tak retak. Gajah Mada pun demikian.

Barangkali kalaupun ada kelemahannya tidak lebih pada saat terjadinya perang Bubat yang pecah berdasarkan kesalahpahaman antara raja Sunda dengan kebijakan politik nusantara Majapahit.

Tetapi dengan segala kebesaran hatinya, kekecewaan Hayam Wuruk sebagai raja yang berkuasa pada saat itu, raja yang besar karena momongannya sejak masih bayi, diwujudkan dengan cara melepaskan jabatannya secara total.

Gajah Mada yang besar dan disegani di zamannya itu, dengan hanya mengenakan kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya, ditemani keempat saudara seperguruannya pergi meninggalkan bumi Majapahit yang dibangunnya lebih dari tiga puluh tahun itu.

Gajah Mada muksya, meninggalkan sejarah yang sulit untuk dihapus walau buku-buku tentang kebesarannya sulit dicari lagi di toko buku terdekat, tulis Nagarakretagama: ‘Tiga, angin dan matahari tahun saka (1253) ia memangku tanggungjawab kesejahteraan dunia, ia wafat pada tahun saka rasa badan matahari (1286), raja sedih dan berduka, hanya karena keagungan citanya, ia tidak memegang teguh cinta keduniawian, ingat akan hakekat makhluk, kebaikan saja yang setiap hari difikirkan. Adapun pada pertemuan itu, raja dengan ayahanda berkumpul, beserta ibu serta dua suadara raja tercinta ikut, mereka berkumpul/bermusyawarah tentang dia, yang tahu segala kebajikan dan dosa, abdi raja, untuk mengganti sang patih, diperbincangkan (namun) tak ada berkenan di hati, menjadikan kesedihan yang menusuk. Raja mengambil kebijakan dari sang Patih yang tak dapat diganti, karena tak ada yang dapat mengganti, apabila ada kesulitan, urusan negara (sementara) didiamkan, sebaiknya dipilih oleh raja menurut pandangan beliau dari para pangeran yang bijak, yang dapat dipercaya kata-katanya dan tahu apabila yang lain tak setuju, tanpa salah. (Nag. 17.1,2,3 55)’

Selamat jalan orang besar.

Namamu akan tetap abadi di hati setiap bangsa ini, bangsa yang tidak akan pernah bersatu kecuali perjuanganmu tempo doeloe, bangsa yang terus haus mempertahankan nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa ini, bangsa yang sekarang ini sangat prihatin terhadap rong-rongan sebagian orang yang ingin memecah-belah bangsa dan negara yang telah kau persatukan ini, bangsa yang sekarang mengalami stagnasi perjalanan politiknya karena ada sebagian orang yang berjuang hanya bagi kepentingannya sendiri, bangsa yang sebagian pejabatnya sekarang melakukan korup tanpa rasa malu, bangsa yang satu dan lainnya sudah saling tidak perduli lagi, bangsa yang sudah tidak perduli dengan pendidikan anak cucunya, bangsa yang sudah terbiasa menahan lapar dan hidup bersahaja sementara kebijakan konsumerisme dan gaya hidup berlebihan menjadi prioritas utama bagi sebagian kecil masyarakatnya, bangsa yang tidak perduli lagi dengan rasa nasionalisme bangsanya, bangsa yang sebagian sumberdaya alamnya sudah tergadaikan dan dinikmati oleh bangsa asing yang pada zamanmu justru sangat diharamkan.

Selamat jalan orang besar.

Kami rindu kelahiranmu kembali, orang yang terlahir hanya untuk kemajuan bangsanya tanpa pernah sedikitpun berfikir bagaimana memajukan, mensejahterakan dan membahagiakan pribadi dan keluargamu. Seorang militer sejati yang budayawan, negarawan dan tetap berdiri di atas sendi-sendi keagamaan yang sangat kuat. Pada zamanmu, kemajuan di bidang sosial, ekonomi, politik, keamanan, kebudayaan dan peradaban, agama dan pendidikan mengalami kemajuan yang tak terhingga. Ini membuat negara mancanegara kagum dan segan. Persatuan bangsa menciptakan kemajuan yang sangat inheren.

Selamat jalan orang besar.

Semoga energimu tetap berada di atas mayapada nusantara ini. Mengayomi dan terus memberikan inspirasi dan kekuatan moral bagi bangsa ini, bangsa yang sudah lelah diguncang perpecahan dan kemunafikan, bangsa yang rindu akan kebesaran, keagungan, kesejahteraan dan kemakmuran masa lalu yang sering diceritakan kakek-nenek kita, bangsa yang sudah bosan dijajah oleh berbagai bentuk penjajahan; bangsa asing, kebudayaan dan peradaban asing, sistem dan konsep perekonomian asing yang pada akhirnya hanya akan menguntungkan negara asing.

Selamat jalan orang besar, Gajah Mada, mantrywira, Mahapatih Amangkubumi Wilwatikta Agung.

JABUNG TEREWAS

Rendy Anggoro


Laki-laki – 55 tahun

Gagah, tegap, budi bahasa baik.

KARAKTER: Tegas, cerdas.

JABATAN/PERAN: Bangsawan setingkat Dharmaputera.

KEN BEBED

Ajeng Viola Pitaloka

Perempuan – 26 tahun

Nama lain: (Kakawin Gajah Mada: Ni Gusti Ayu Bebed)

Manis, kulit bersih, langsing.

KARAKTER: Tutur bahasa baik, santun, cerdas, bersahaja, setia kepada suami, mendambakan seorang putra/i.

JABATAN/PERAN:

  • Putri Keraton, istri Gajah Mada
  • Putri Patih Jabung di Majapahit
  • Sangat sayang, cinta dan setia kepada suaminya
  • Dalam Kakawin Gajah Mada, Ken Bebed disamakan layaknya Puteri Madhawi, puteri Raja Yayati, yang sangat setia kepada suami
  • Orang yang sangat berjasa dalam kehidupan Gajah Mada. Selalu memberikan dorongan dan semangat kepada suaminya itu.

KUDA LINUWIH

Hadi Daksina


Laki-laki – 40 tahun

Keras, gagah, tegap, tegas

KARAKTER: Tutur bahasa baik, santun, seorang prajurit, bijaksana, berwibawa

JABATAN/PERAN: Senapati Perang Sadeng

SENJATA:

  • Pedang prajurit
  • Setangkai tombak pendek bermata tajam di kedua ujungnya.

LEMBU NALA SEPUH

Rangga Nala

LEMBU NALA

Laki-laki – 26 tahun

Tegap, gagah, keras, tegas.

KARAKTER: Tutur bahasa baik, santun, seorang prajurit sejati, bijaksana, berwibawa.

JABATAN/PERAN:

  • Senapati Sandi Bala (dibawah Tumenggung Wayuh)
  • Senapati Jaladibala
  • Panglima Utama
  • Tumenggung
  • Masih mempunyai paman seperguruan: Kerta Sanggabumi yang tinggal di Lombok.

SENJATA:

  • Besi baja sepanjang 50 cm dengan kedua ujung berbentuk bulatan dan garis pembatas kedua ujung berbentuk lingkaran tiga ring
  • Pedang prajurit.

Sejak tahun 1357, ekspedisi militer ke nusantara bagian timur dilakukan dibawah kepemimpinan Tumenggung Lembu Nala seperti: Dompo, Maluku, Banggawi, Buru, Gurun, Seram, Gunung Api, Sumba, Flores, Banda, Timor dan Wanin di pantai barat Irian.

Menurut Nagarakretagama pupuh LXXII/2-3, setelah Gajah Mada mengundurkan diri, Lembu Nala tetap menjabat tumenggung. Lembu Nala sangat menghormati Gajah Mada,  orang yang selama ini dianggapnya sebagai seorang pemimpin, guru dan bahkan kakaknya sendiri.

Pengunduran diri Gajah Mada sempat menggoyahkan dirinya. Namun Gajah Mada tetap meminta Lembu Nala menjabat tumenggung. Pada saat itu tidak ada orang yang mampu menggantikan kedudukan Lembu Nala sebagai tumenggung.

Apabila jabatan tumenggung digantikan orang lain Gajah Mada khawatir akan semakin memperburuk Majapahit Agung yang sudah menguasai seluruh perairan nusantara.

LEMBU PETENG

Boy Lee

Laki-laki – 52 tahun

Berwajah keras, gagah, tegap, budi bahasa baik.

KARAKTER: Keras, tegas, temperamental.

JABATAN/PERAN: Bangsawan setingkat Dharmaputera.

SENJATA: Keris

TRIBHUANATUNGGADEWI

Nama lain:

Gelar abisekanya: Dyah Tribhuana Tunggadewi Jayawisnuwardhani.

Cantik, anggun, kulit bersih.

KARAKTER:

Santun, tutur bahasa baik, arif, bijaksana, berwibawa.

JABATAN/PERAN:

  • Ratu di Kahuripan
  • Ratu Majapahit, mewakili ibu suri Sri Rajapatni
  • Kakak Dyah Wiyat, adik tiri Sri Jayanegara, saudara sepupu Adityawarman
  • Suaminya Sri Kertawardhana, Raja Singasari
  • Ibunda Hayam Wuruk.

ILMU/AJIAN:

AJI Sutera Nirwana

SENJATA:

Selendang berwarna kuning muda

Setelah Sri Jayanagara yang bergelar Wiralandagopala Sri Sundarapandyadewa Adiswara mangkat, tidak ada yang pantas menggantikan kedudukan raja selain Rajapatni, permaisuri mendiang Sri Kertarajasa.

Namun Ibu  Suri Rajapatni sudah bebersih  diri dengan melakukan  pendekatan rohani kepada  Sang  Bodhisatwa, dia enggan duduk di singgasana Keraton. Itulah sebabnya Rajapatni kemudian menunjuk putrinya, Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani, Ratu di Kahuripan, menggantikan Sri Jayanagara di pertengahan tahun 1328 sebagai wakilnya, menjadi Ratu di Majapahit.

Tribhuanatunggadewi, berupaya keras melanjutkan cita-cita kakaknya mewujudkan kerajaan besar seperti yang juga menjadi program eyangnya, Sri Kertanegara, Raja Singasari terakhir. Tribhuanatunggadewi kawin dengan Cakradara raja Singasari yang bergelar Sri Kertawardhana.

Dari perkawinan ini lahirlah Hayam Wuruk yang bergelar Sri Rajasanagara raja Majapahit yang sangat populer mengangkat Majapahit ke zaman keemasan.

Dua tahun setelah menjadi Ratu di Majapahit, tepatnya tahun 1330, Tribhuanatunggadewi mengangkat Gajah Mada menjadi Patih di Daha, negara bawahan Majapahit, menggantikan Arya Tilam. Pernyataan ini tertulis di Nagarakretagama pupuh LXXI  yang mengatakan Gajah Mada menjabat patih di Daha pada tahun saka 1253 (= 1330/1 Masehi), didukung oleh prasasti Blitar yang juga menyatakan Gajah Mada menjadi patih di Daha pada tahun 1330/1.

Pengangkatan ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan bangsawan istana mengingat Gajah Mada berasal dari kalangan rakyat biasa.

Sebagian yang lain menganggap kedudukan itu pantas dipegang olehnya mengingat jasanya menyelamatkan raja Jayanagara di Badander. Keadaan istana mulai dibayang-bayangi oleh ketidakpercayaan beberapa pihak terhadap kepemimpinan di pusat kerajaan. Sri Ratu yang track-recordnya tidak terlalu menonjol dianggap terlalu lamban membuat kebijakan.

Namun tercatat, pada masa pemerintahannyalah Sumpah Amukti Palapa yang sangat populer dikumandangkan oleh Gajah Mada pada saat pengangkatan Gajah Mada sebagai Mahapatih Amangkubumi Majapahit.