Sang Pemersatu

film

REKOMENDASI: MENTERI KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA

Nomor        : HK.505/2/22/MKP/2010
Tanggal      : 12 Agustus 2010
Tentang     : Dukungan dan rekomendasi produksi Film Gajah Mada

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

Nomor        : 416/M.KOMINFO/8/2010

Tanggal       : 28 Agustus 2010

Tentang      : Dukungan dan rekomendasi produksi Film Gajah Mada

DIRJEN MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

Nomor        : 3490/C.C4.4/LL/2010

Tanggal      : 10 Agustus 2010

Tentang     : Dukungan produksi Film Gajah Mada  dan pembuatan DVD gratis untuk siswa-siswi SMP/SMA seluruh Indonesia

sira gajahmada ambekel ing Bhayangkara

karya/skenario Renny Masmada

1. LATAR BELAKANG

Setelah Singasari runtuh (1293), kerajaan-kerajaan yang sebelumnya berada di bawah cengkeraman Singasari mulai melepaskan diri menjadi negara merdeka.

Raden Wijaya, menantu Kertanagara, kemudian mendirikan kerajaan Majapahit.

Setelah peristiwa Badander, pada masa pemerintahan Jayanagara, Gajah Mada secara signifikan melakukan perbaikan dan pengembangan konsepsi keamanan dalam negeri dengan memberikan porsi yang sangat besar pada kesatuan Bhayangkara.

Kesatuan Bhayangkara sudah ada sejak zaman Singasari, sebelum Wisnuwardhana memerintah (1248-1268 Masehi). (Begini keindahan lapang watangan luas bagaikan tak berbatas. Menteri, bangsawan, pembantu raja di Jawa, di deret paling muka. Bhayangkari tingkat tinggi berjejal menyusul di deret yang kedua……Nagarakretagama 9.2)

(Sira Gajah Mada ambekel ing bhayangkara…./ Gajah Mada yang menjadi kepala pasukan bhayangkara …Pararaton 26)

Di tangan Gajah Mada, Kesatuan Bhayangkara menjadi kekuatan sipil yang sangat berpengaruh pada zamannya. Sehingga keselamatan para raja dan keluarganya berada mutlak di bawah kewenangan dan tanggungjawab Kesatuan Bhayangkara.

Kesatuan Bhayangkara, sebagai kekuatan sipil telah memberikan kepercayaan yang sangat kuat di hati masyarakat, sebagai pengayom dan pelindung rakyat.

Bhayangkara pada zaman Majapahit menduduki posisi strategis yang sangat penting bagi perkembangan Negara di kemudian hari. Bersama-sama dengan kekuatan militer lainnya Bhayangkara terbukti mampu menjaga seluruh perairan Nusantara Raya.

Kesatuan Bhayangkara yang bertugas di pusat kerajaan Majapahit dinamakan Adhika-Bhayangkari sedang yang bertugas di daerah, di kerajaan bawahan dan Mancanegara dinamakan Lelana-Bhayangkari.

Puluhan tahun kemudian, ketika Majapahit mulai muncul di peta geopolitik Nusantara Raya ini, Gajah Mada mulai melakukan perencanaan strategis yang sangat brilian  pada sektor keamanan dan pertahanan dalam dan luar negeri.

Sumpah Amukti Palapa yang diucapkan Gajah Mada di paseban agung Majapahit memuat gagasan yang sangat besar terhadap penyatuan seluruh Nusantara di perairan Dwipantara.

Dengan menjunjung tinggi Kitab Perundangan Kutaramanawa Dharmasastra, Majapahit terbukti mampu menegakkan perangkat sistem hukum di seluruh wilayah Negara besar ini.

Adityawarman, duta Majapahit secara gemilang pada tahun 1325 disusul pada tahun 1332, berhasil melakukan diplomasi tingkat tinggi dengan Cina untuk mengukuhkan eksistensi Majapahit di perairan selatan sebagai kerajaan agung yang membawahi kerajaan-kerajaan lain di perairan nusantara.

Majapahit menjadi besar.

Kebesaran Majapahit terungkap pertama kali oleh doktor  dari  Belanda  bernama     J. L. A. BRANDES berdasarkan Babad Tanah Jawi yang diterbitkannya pada tahun 1888 dan kemudian disempurnakan dengan temuan Serat Pararaton yang diterbitkan pada tahun 1896.

Naskah Nagarakretagama karya pujangga besar bangsa Indonesia Prapanca ditemukan pertama kali di puri Cakranegara, di pulau Lombok, yang sebagian naskahnya diterbitkan oleh J.L.A. BRANDES pada tahun 1902 dengan teks dalam huruf Bali.

Berturut-turut kemudian terbit karya-karya besar mengenai kebesaran Majapahit     oleh H. KERN pada tahun 1903 dalam makalahnya: De Nagarakretagama.  Oud-Javaansch lofdicht op Koning Hayam Wuruk  van Majapahit, G.P. ROUFFAER pada tahun 1909 dengan judul Beschrijving van Candi Singasari en de wolkentooneelen van Penataran.

Kebesaran Majapahit, berarti kebesaran Gajah Mada.  Sebagai seorang yang pernah menjabat sebagai Kepala Pengawal Raja pada kesatuan Bhayangkara, Panglima Besar angkatan laut dengan gelar Jaladhimantri, Gajah Mada tetap konsisten pada Sumpah Palapa yang diucapkan di paseban agung Majapahit pada tahun 1334 sebagai Mahapatih Amangkubumi, yaitu:

LAMUN HUWUS KALAH NUSANTARA, ISUN AMUKTI PALAPA. LAMUN KALAH GURUN, RING SERAM, TANJUNG PURA, RING HARU, RING PAHANG, DOMPO, RING BALI, SUNDA, PALEMBANG, TUMASIK, SAMANA ISUN AMUKTI PALAPA.

Yang artinya:

SETELAH TUNDUK NUSANTARA, SAYA AKAN BERISTIRAHAT, SETELAH TUNDUK GURUN, SERAM, TANJUNG PURA, HARU, PAHANG, DOMPO, BALI, SUNDA, PALEMBANG, TUMASIK, BARULAH SAYA BERISTIRAHAT sesuai dengan program politiknya yang tertuang dalam kitab SUTASOMA karya PUJANGGA BESAR BANGSA INDONESIA, RAKAWI TANTULAR,

yaitu:

BHINNEKA TUNGGAL IKA tan hana dharma mangrwa

2. SINOPSIS

Setelah peristiwa Badander, Gajah Mada secara signifikan melakukan perbaikan dan pengembangan konsepsi keamanan dalam negeri dengan memberikan porsi yang sangat besar pada kesatuan Bhayangkara.

Setelah kematian Jayanagara, Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani menjadi Maharani di Majapahit sebagai wakil Ibu Suri Rajapatni.

Tribhuanatunggadewi mendapat tantangan yang sangat luas di kalangan bangsawan dan petinggi Negara. Sehingga pada masa pemerintahannya banyak kerajaan-kerajaan kecil yang melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Hal ini menimbulkan keresahan di kalangan istana.

Adityawarman sebagai saudara sepupu Ratu merasa mempunyai tanggungjawab besar unuk mempertahankan Majapahit dari kehancuran akibat pemberontakan yang dilakukan para kerajaan kecil seperti Sadeng dan Keta.

Bersama-sama dengan Gajah Mada, Adityawarman melakukan perencanaan strategis melumpuhkan para  pemberontak dan sekaligus mengembalikan kewibawaan Sri Tribhuanatunggadewi sebagai penerus trah Raden Wijaya.

Sebagai petinggi Bhayangkara yang sudah terbukti mampu menyelamatkan Jayanagara pada masa pemberontakan Ra Kuti, Gajah Mada akhirnya dapat memadamkan pemberontakan besar di Sadeng.

Setelah peristiwa itu, Adityawarman berangkat ke Cina untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Cina yang sedang mengalami krisis karena pemberontakan Hung Wu terhadap kekuasaan Dinasti Yuan.

Pada tahun 1334, setelah kelahiran jabang bayi Hayam Wuruk, Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih Amangkubumi menggantikan Arya Tadah yang sudah sakit-sakitan.

Pada saat pengangkatannya itulah Gajah Mada mengucapkan sumpah sakral yang sangat terkenal yaitu: AMUKTI PALAPA.

3. TUJUAN

Tujuan utama dari tema ini adalah mempersembahkan nilai-nilai fakta sejarah tentang kebesaran bangsa Indonesia sejak zaman dahulu. Secara khusus juga bertujuan mengalihkan putra-putri bangsa dari kebanggaan terhadap tokoh-tokoh heroik negara lain.

Terutama bagi pencitraan Polri ke depan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat luas, yang sangat punya hubungan moril begitu kuat terhadap ketokohan Gajah Mada sebagai founding-father, dan sekaligus bapak Persatuan Bangsa sesuai dengan falsafah yang sangat agung dan sakral: Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa, seperti yang tertuang dalam Kitab Sutasoma.

Setelah amanat Presiden yang sangat berapi-api pada Dies Natalis PTIK ke X tahun 1956, pada tahun 1960, diadakan konferensi kerja para KPKOM (Kepala Kepolisian Komisariat) di Yogyakarta.

Salah satu acaranya adalah membahas Catur Prasatya sesuai amanat Presiden tersebut di atas. Rapat memutuskan ditetapkannya Catur Prasatya sebagai ‘pedoman karya’. Sebelumnya pada 1 Juli 1955 telah ditetapkan Tribrata sebagai ‘pedoman hidup’.

‘Kelahiran’ Catur Prasetya pada tahun 1960, dan kemudian divalidasi pada tahun 2004, secara empiris telah memberikan garis yang begitu kuat terhadap hubungan filsafati antara Polri dan Bhayangkara produk Majapahit yang juga telah ‘divalidasi’ oleh Gajah Mada lebih enam ratus tahun lalu.

Bhayangkara sebagai institusi polisi saat itu ternyata memiliki bentuk yang sangat mirip dengan perjalanan sejarah Kepolisian Negara Republik Indonesia sejak secara resmi dibentuk setelah Kemerdekaan Indonesia.

Catur Prasetya, tidak dapat dipungkiri telah secara signifikan membawa Polri menjadi Bhayangkara abad ini.

Karena Catur Prasetya adalah muatan 4 sifat Gajah Mada yang tertulis di naskah agung Nagarakretagama karya Rakawi Prapanca, dan Catur Prasetya merupakan soko guru Polri sebagai paradigma moral, sudah sepatutnya Polri mempunyai tanggungjawab moral melakukan pendekatan dan concerning yang sangat tinggi terhadap sosok Gajah Mada.

Sebagai tokoh sejarah, Gajah Mada memiliki kekuatan intelektual, spiritual, metafisis dan filsafati yang sangat tinggi bagi bangsa ini.

Karena Polri mempunyai benang merah yang sangat kuat dengan Bapak Bhayangkara ini sudah sepatutnya melakukan research, hipotesis bahkan analisis yang cukup serius terhadap karakteristik, perilaku, gagasan dan pemikiran-pemikiran Gajah Mada sehubungan dengan perkembangan Polri ke depan.

Sebagai konseptor terhadap pembentukan Negara berdaulat yang menyatukan seluruh kepulauan Nusantara Raya, Gajah Mada telah menetapkan warisan kebijakan yang begitu tinggi terhadap kemajuan bangsa secara futuristik.

Dan, secara tidak langsung, Gajah Mada telah memberikan arti yang sangat luas terhadap konsepsi pertahanan dan keamanan yang di kemudian hari dimiiki bangsa ini melalui UUD 45 Bab Pertahanan Negara yang kemudian mengalami perubahan menjadi Bab Pertahanan dan Keamanan Negara yang tertuang pada pasal 30 ayat (1) sampai dengan ayat (5), dan secara rinci diatur dalam UU Nomor 2 tahun 2002 serta UU Nomor 3 tahun 2002 telah memberikan ketegasan perbedaan kedudukan Polri dan TNI.

Pada zamannya, Gajah Mada dengan tegas telah memisahkan kedudukan Bhayangkara dengan Samatya Bala (Angkatan Darat) dan Jaladi Bala (Angkatan Laut). Benang merah inilah yang secara kohesif memberikan muatan strategis terhadap konsepsi pertahanan dan keamanan Negara saat ini.

Bagi Polri, konsepsi ini merupakan bangunan yang sangat konstruktif terhadap dimensi kesejarahan yang saling bersambung sejak zaman pra kemerdekaan sampai hari ini dan masa mendatang.

Ternyata konsepsi dan gagasan Gajah Mada secara sustainable masih memiiki ruang yang sangat luas dan akseptable digunakan atau dimodifikasi oleh Polri saat ini sesuai tuntutan zaman di Negara tercinta ini berhadapan dengan era globaisasi dan percepatan teknologi informasi di dunia saat ini.

Melalui semangat Catur Prasetya, Gajah Mada menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan seluruh konsepsi, kinerja dan karakteristik Kepolisian Negara Republik Indonesia yang sangat menjunjung tinggi amanat dasar Negara Pancasila dan UUD 45 sebagai landasan konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sebagai roman sejarah yang dikemas dalam tema laga Film sira gajahmada ambekel ing Bhayangkara  juga punya muatan strategis terhadap program pemerintah sebagai pemersatu bangsa.

Film sira gajahmada ambekel ing Bhayangkara  diharapkan juga menjadi produksi yang dapat mengangkat karakteristik bangsa Indonesia sebagai bangsa besar yang di dalamnya terkandung nuansa-nuansa sosial dan budaya yang berurat akar sebagai warisan nenek moyang.

Politik dan keamanan dituangkan dalam bentuk yang sangat transparan melalui konflik-konflik hierarkis dan human being yang pada akhirnya muncul ke permukaan sebagai melodrama yang bernuansa kebangsaan sesuai dengan adat istiadat yang dipengaruhi oleh kultur dan sistem keagamaan yang sangat akseptabel.

Lebih penting dari itu adalah supaya Film sira gajahmada ambekel ing Bhayangkara menjadi karya sinema sejarah yang bersifat monumental. Terutama bagi generasi yang akan datang, dan pencitraan Polri dalam meningkatkan trust.

4. SASARAN

  • Terciptanya trust building Kepolisian Negara Kesatuan Republik Indonesia
  • Terbentuknya nilai-nilai moralitas, kepribadian, sikap, perilaku, pengabdian, pelayanan, pengayoman dan penegakan hukum di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
  • Terjalin kerjasama dengan pihak-pihak lain bagi terlaksananya poduksi ini.
  • Tercipta film yang berkualitas sesuai permintaan pasar dengan mengindahkan kaidah estetika yang profitable
  • Tercipta lapangan pekerjaan yang produktif dan melibatkan banyak tenaga kerja pada produksi ini.
  • Terbentuk kreativitas yang mampu mengarahkan crew dan artis berpartisipasi secara optimal untuk memacu rencana pengembangan dunia perfilman pada umumnya.
  • Tercipta kerjasama dengan perusahaan-perusahaan dan Bank luar negeri, untuk memacu kuantitas produksi yang berkualitas bagi pangsa pasar mancanegara.

Video Promo Gajah Mada

Diunggah di YouTube dengan link URL: www.youtube.com/watch?v=cBeFykViVLM oleh Renny Masmada

Statistik video

Penayangan dan penemuan

2,555 Penayangan (dari tanggal 30 April 2012 – 17 November 2012)

Acara penemuan penting

A. Rujukan pertama dari penelusuran YouTube: film gajah mada (30 Apr 2012 – 94x tayang)
B. Rujukan pertama dari: filmgajahmada.com  (2 Mei 2012 – 98x tayang)
C. Penayangan pertama dari perangkat seluler (4 Mei 2012 – 689x tayang)
D. Rujukan pertama dari penelusuran Google: film gajah mada (5 Mei 2012 – 71x tayang)
E. Rujukan pertama dari penelusuran YouTube: gajah mada (17 Mei 2012 – 287x tayang)
F. Rujukan pertama dari: Google  (23 Mei 2012 – 51x tayang)
G. Rujukan pertama dari penelusuran YouTube: gajahmada (28 Mei 2012 – 52x tayang)
H. Rujukan pertama dari penelusuran Google: gajah mada (1 Jun 2012 – 54x tayang)
I. Pertama disematkan pada: rennymasmada.com (15 Jun 2012 – 48x tayang)
J. Pertama disematkan pada: filmgajahmada.com (15 Jun 2012 – 170x tayang)

Keterlibatan

Pemirsa

Lokasi teratas

Indonesia
Malaysia
Brunei

Demografi teratas

Pria, 45-54 tahun
Pria, 55-64 tahun
Pria, 35-44 tahun

Diterbitkan pada 30 Apr 2012 oleh masmadarenny

Film Gajah Mada
Episode: Amukti Palapa
Karya Sutradara: Renny Masmada
PT. Tawi Nusantara

Kategori:

Film & Animasi

Lisensi:

Lisensi YouTube Standar

Gajah Mada watch?v=cBeFykViVLM

Gajah Mada

<iframe width=”420″ height=”315″ src=”http://www.youtube.com/embed/cBeFykViVLM” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>