Sang Pemersatu

dialog

Seluruh Nusantara telah bersatu, BHINNEKA TUNGGAL IKA tan hana dharma mangrwa. Sudah saatnya seluruh rakyat bangkit melawan perpecahan dalam bentuk apapun. Kekayaan alam bukan milik segelintir masyarakat, tapi seluruh rakyat Dwipantara. Oleh karena itu, tumbuhkan jiwa bhayangkara sejati, yang sangat mengagungkan pengabdian dan ketulusan menjaga tanah air sebagai warisan untuk anak cucu kelak.

(SCENE-01. Gajah Mada, 1359)

Dengan kekuatan bahari yang terbukti mampu menjaga perairan anugerah Dewata ini, Majapahit bersinar menerangi bumi Dwipantara, di bawah naungan wibawa mapanji gula-kelapa. (SAMBIL MENUNJUK BENDERA MERAH PUTIH YANG TERTANCAP DI HALAMAN PESANGGRAHAN)

(SCENE-02. Gajah Mada, 1359)

Kecintaan atas tanah ini harus tercermin melalui sikap dan perilaku kita sehari-hari, gineung pratidina yaitu  berfikir baik setiap hari, dan tan satresnem yaitu tulus berkorban tanpa pamrih.

(SCENE-03. Gajah Mada, 1359)

Kita harus menjaga kekayaan negara tercinta ini dengan seluruh kemampuan kita, apapun bentuknya.

(SCENE-04. Gajah Mada, 1359)

Anakmas Prabhu Hayam Wuruk memintaku kembali ke istana.

(SCENE-04. Gajah Mada, 1359)

Anakmas Prabhu sudah seperti anakmu sendiri. juga muridmu. Keluarga besar perguruan Ekapaksi ini.

(SCENE-04. Kebo Narameta, 1359)

Kembali ke istana bukan persoalan besar bagiku. Tetapi biarlah anakmas Prabhu memimpin bangsa besar ini tanpa bayang-bayangku lagi.

(SCENE-04. Gajah Mada, 1359)

Kakang, Majapahit sudah mampu mempersatukan seluruh Nusantara ini. Aku bangga menjadi bagian dari perjuangan suci ini (MATA GAJAH MADA TAMPAK MEMERAH MENAHAN AIRMATA).

(SCENE-04. Gajah Mada, 1359)

Puluhan tahun kerajaan agung ini digoncang oleh persoalan yang tak pernah berhenti sejak pertama kali Yang Mulia Baginda Prabhu Sri Kertarajasa membangun kerajaan ini. Namun terbukti, kerajaan agung ini mampu berdiri tegar dan berwibawa. (MATANYA JAUH MENATAP MASA LALU)

(SCENE-04. Gajah Mada, 1359)

Ra Kuti tidak pantas menjadi Raja Majapahit. Kuti tidak punya trah, tidak punya garis keturunan raja. Dia tidak berhak duduk di singgasana.

(SCENE-25. Naga Baruna, 1319)

Sebagai seorang bangsawan, seharusnya Kakang Patih tahu unggah-ungguh. Gajah Mada hanya seorang bhayangkari rendahan yang kebetulan diangkat menjadi abdi kepercayaan Sri Prabhu. Dia tak punya darah kebangsawanan.

(SCENE-34. Lembu Peteng, 1319)

Sebagai seorang bangsawan, Kakang seharusnya memelihara kelestarian  dan kemurnian darah kebangsawanan yang memang telah menjadi adat-istiadat kita. Kalau sampai Jeng Bebed berjodoh dengan anak hina itu, dan Kakang tak mampu mencegahnya, akan kusingkirkan anak tak tahu diri itu dari bumi Majapahit ini. Maafkan kami Kakang.

(SCENE-34. Ra Kembar, 1319)

Tidak bisa! Tidak bisa! Cinta tidak boleh tumbuh dari dua jenis darah berbeda. Aku tidak setuju! Kasta mereka berbeda.

(SCENE-36. Ra Kembar, 1319)

Ini bukan soal hak Diajeng. Tapi kepatutan. Soal warna darah. Soal derajat. Aku orang desa biasa. Sementara kau putri bangsawan, keturunan para dewa.

(SCENE-38. Gajah Mada, 1319)

Adi Mada, bangsawan bukan dilahirkan. Tapi diciptakan. Diciptakan oleh dirinya sendiri. Bangsawan yang hanya bangga karena darah keturunan itulah yang sebenarnya manusia kerdil yang tak mampu memaknai nilai-nilai dirinya.

(SCENE-38. Adityawarman, 1319)

Kalau kau mencintai Diajeng Bebed. Buktikan itu. Persetan dengan perbedaan trah. Cinta tak kenal trah, perbedaan darah keturunan.

(SCENE-38. Adityawarman, 1319)

Apa maksudmu? Merubahnya menjadi seorang bangsawan? Tidak! Anak desa tetap anak desa. Dia tak pantas mengenakan kalung kasta. Persetan! Itu yang membuatku gila. Semakin hari Majapahit ini semakin tidak punya wibawa. Tak ada kasta untuk Gajah Mada. Bagaimanapun dia anak di luar kasta!

(SCENE-41. Ra Kembar, 1326)

Itu yang membuatku gila. Semakin hari Majapahit ini semakin tidak punya wibawa. Tak ada kasta untuk Gajah Mada. Bagaimanapun dia anak di luar kasta.

(SCENE-41. Ra Kembar, 1326)

Ya, setiap hari aku melihat kerusakan moral, di hadapanku Diajeng. Justru di dalam istana yang harus dijaga kehormatannya.

(SCENE-44. Gajah Mada, 1328)